Sumbawanews.com,- Pesawat strategis B-52 Stratofortress milik Angkatan Udara Amerika Serikat jatuh tak lama setelah lepas landas dari pangkalan udara di Los Angeles pada Senin, 15 Juni 2026. Insiden tragis itu diduga menewaskan seluruh delapan awak yang berada di dalam pesawat, berdasarkan laporan resmi militer AS yang belum dikonfirmasi secara resmi hingga berita ini diturunkan.
Rekaman video yang beredar menunjukkan kepulan asap tebal membumbung tinggi dari lokasi kejadian, menghiasi langit sore di sekitar landasan pacu berpasir. Tidak ada puing besar yang terlihat jelas, mengindikasikan bahwa pesawat kemungkinan mengalami kehancuran total saat dampak. Tim penyelamat segera dikerahkan ke lokasi, namun kondisi api yang masih menyala dan struktur yang hancur lebur menyulitkan upaya identifikasi korban.
B-52, yang pertama kali memasuki layanan aktif pada 1955, tetap menjadi tulang punggung kekuatan udara strategis AS meski telah berusia lebih dari tujuh dekade. Pesawat berbentuk moncong panjang ini mampu membawa hingga 31,7 ton bom—termasuk senjata nuklir—dan masih digunakan dalam misi jarak jauh, baik di Timur Tengah maupun kawasan Indo-Pasifik. Keandalannya yang legendaris membuat insiden semacam ini jarang terjadi, sehingga kejadian ini menjadi perhatian serius di kalangan militer dan analis pertahanan global.
Pihak Pentagon belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai penyebab kecelakaan, namun dugaan sementara mencakup kemungkinan gangguan teknis sistem penerbangan atau kesalahan prosedur saat lepas landas. Pesawat yang jatuh merupakan salah satu dari 76 unit B-52 yang masih aktif dalam armada AS, dan menjadi simbol ketahanan teknologi militer Amerika selama lebih dari 70 tahun.
Insiden ini menandai salah satu kecelakaan paling serius yang melibatkan pesawat bomber AS dalam beberapa dekade terakhir. Komunitas internasional menantikan klarifikasi resmi dari Washington, sementara keluarga awak berduka dalam diam, menunggu kabar pasti tentang nasib para pahlawan yang tak pernah kembali.















