Sumbawanews.com,- Kedutaan Besar Amerika Serikat di Yordania mengeluarkan peringatan darurat bagi warganya menyusul serangan balasan Iran terhadap pangkalan militer AS di Timur Tengah. Dalam pernyataan resmi yang dirilis Kamis (11/6), Kedubes AS meminta seluruh warga negara Amerika untuk segera mencari perlindungan, tetap berada di dalam ruangan, dan mematuhi arahan otoritas setempat setelah laporan masuk tentang rudal dan drone yang melintasi wilayah udara Yordania.
Peringatan ini muncul setelah serangan balasan Iran yang melibatkan setidaknya 12 rudal balistik, menargetkan fasilitas militer AS di Al-Azraq, Yordania—termasuk hanggar pesawat tempur F-35 dan pusat komando kendali. Selain itu, Garda Revolusi Islam (IRGC) juga menembak jatuh drone pengintai MQ-9 Reaper di wilayah udara Iran, sekaligus meluncurkan serangan drone terhadap pangkalan AS di Bahrain.
Aksi Iran ini merupakan respons terhadap serangan udara AS beberapa hari sebelumnya, yang menargetkan infrastruktur strategis di Iran, termasuk menara komunikasi dan fasilitas pengolahan air. Washington menilai serangan itu sebagai balasan atas insiden penembakan pesawat Apache milik AS di Selat Hormuz, yang disebut sebagai tindakan agresif oleh IRGC.
Konflik ini memperparah ketegangan di kawasan yang sebelumnya sempat mereda setelah gencatan senjata yang dideklarasikan pada April. Meski kesepakatan itu mencakup penghentian serangan oleh AS dan sekutunya, termasuk Israel, Iran menuduh pihak-pihak tersebut terus melanggar kesepakatan dengan serangan berulang terhadap target di wilayahnya.
Sementara itu, Yordania—yang menjadi basis operasional penting AS di Timur Tengah—kini berada di pusat badai. Pemerintah Amman belum memberikan pernyataan resmi, tetapi laporan intelijen mengindikasikan bahwa sejumlah pangkalan udara di negara itu menjadi sasaran serangkaian serangan yang terkoordinasi.
Dengan eskalasi yang terus meningkat, dunia kembali mengawasi apakah konflik ini akan meluas menjadi perang regional yang lebih luas. Pemerintah AS, sambil memperkuat pertahanan di kawasan, juga mendorong sekutu-sekutunya untuk bersatu menekan Iran agar segera menghentikan serangan. Sementara itu, 22 negara telah mengeluarkan pernyataan bersama menuntut Teheran menghentikan “serangan teror” yang mengancam stabilitas global.
Dengan kekhawatiran akan serangan lebih besar, warga asing—terutama warga AS—diperingatkan untuk tidak mengabaikan situasi keamanan yang dinamis. Di tengah kabut perang, satu hal jelas: Timur Tengah kembali berada di ambang jurang yang lebih gelap.

















