Home Berita Internasional AS Tegaskan Siap Perang Ulang Lawan Iran

AS Tegaskan Siap Perang Ulang Lawan Iran

Sumbawanews.com,- Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth menegaskan bahwa militer AS memiliki kapasitas penuh untuk memulai kembali konflik bersenjata melawan Iran jika diperlukan. Pernyataan itu dilontarkan di tengah kegagalan negosiasi damai yang telah berlangsung berminggu-minggu, dan memperdalam ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Hegseth menyampaikan hal itu di sela-sela Forum Keamanan Shangri-La Dialogue di Singapura, Sabtu (30/5). “Washington lebih dari sekadar mampu untuk memulai kembali perang jika menginginkannya,” ujarnya, seperti dilansir AFP. Pernyataan keras ini bukan sekadar retorika—ia menyasar langsung ke inti kegagalan pembicaraan damai antara AS dan Iran, yang kini terjebak dalam impas politik.

Presiden Donald Trump, yang kembali memimpin Gedung Putih, menjadi penghalang utama dalam proses perdamaian. Ia menetapkan sejumlah syarat mutlak yang tidak bisa ditawar: Iran harus menyerahkan seluruh stok uranium diperkaya, membuka kembali Selat Hormuz tanpa biaya tol, membersihkan ranjau laut di jalur strategis itu, dan menghentikan program nuklirnya secara permanen. Sebagai gantinya, AS bersedia mencabut blokade pelabuhan Iran—tapi tanpa penukaran uang atau konsesi ekonomi lainnya.

Gedung Putih menegaskan bahwa Trump tidak akan menandatangani kesepakatan apa pun yang tidak sepenuhnya melindungi kepentingan nasional Amerika. “Hanya kesepakatan yang baik, sesuai prinsip tanpa kompromi, yang akan diterima,” kata seorang pejabat senior pemerintah AS usai pertemuan dua jam di Gedung Putih pada Jumat (29/5).

Namun, Teheran menolak mentah-mentah tuntutan itu. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baqaei, menyebut proposal Trump sebagai “campuran antara kebenaran dan kebohongan.” Ia menegaskan bahwa tidak ada negosiasi aktif mengenai program nuklir Iran, dan bahwa negaranya telah meninggalkan pendekatan pemaksaan sejak 47 tahun lalu. “Belum ada kesepakatan final,” tegas Baqaei.

Ketegangan ini bukan hanya soal senjata nuklir atau akses maritim. Konflik AS-Iran telah mengguncang stabilitas energi global. Selat Hormuz, jalur pengiriman minyak terpenting di dunia, kini menjadi titik rawan konflik bersenjata. NATO, termasuk Belanda, telah mengerahkan kapal penyapu ranjau ke kawasan itu, sementara pasukan militer AS terus meningkatkan kehadiran di Teluk Persia.

Dengan diplomasi yang terhenti dan retorika militer yang memanas, dunia menghadapi risiko konflik berskala besar yang bisa memicu krisis energi, inflasi global, dan kekacauan geopolitik di kawasan yang sudah rapuh. AS memang bersiap untuk perang—tapi apakah Iran akan membiarkan dirinya dipaksa masuk ke dalamnya? Atau justru memilih jalan lain yang lebih berbahaya?

Saat ini, dunia menahan napas. Kedua belah pihak berdiri di tepi jurang—dan satu kesalahan langkah bisa mengubah sejarah.

Previous articleBos Travel Hanania Ditahan Usai Tipu Ratusan Calon Jemaah Umrah
Next articlePDIP Luncurkan Lagu Kebanggaan Bung Karno
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik