Sumbawanews.com,- Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada secara bersama-sama memperketat protokol kesehatan bagi pelancong dari wilayah Afrika yang menjadi episentrum wabah Ebola, menjelang penyelenggaraan Piala Dunia FIFA 2026. Langkah koordinasi ini diumumkan pada Kamis (28/5), sebagai upaya melindungi jutaan pengunjung, atlet, dan warga lokal yang akan memadati stadion-stadion di ketiga negara mulai 11 Juni mendatang.
Dalam pernyataan bersama yang dirilis oleh Global Affairs Canada, ketiga negara menegaskan bahwa keselamatan publik menjadi prioritas utama dalam menyambut ajang sepak bola terbesar di dunia. Pemerintah Kanada telah mengambil langkah paling tegas: melarang sementara masuknya warga dari Republik Demokratik Kongo, Uganda, dan Sudan Selatan selama 90 hari, mulai 27 Mei. Mereka yang sudah berada di perjalanan atau memiliki izin masuk wajib menjalani karantina wajib selama 21 hari—durasi maksimum masa inkubasi virus Ebola.
AS dan Meksiko, meski belum memberlakukan larangan total, memperkuat sistem pemantauan di titik-titik masuk utama, termasuk bandara dan pos perbatasan. Petugas kesehatan diberi kewenangan untuk memeriksa suhu tubuh, riwayat perjalanan, dan gejala klinis pada setiap penumpang yang datang dari negara-negara berisiko tinggi. Sistem pelacakan kontak juga diperpanjang, dengan koordinasi ketat antara otoritas kesehatan nasional dan internasional.
Langkah ini bukan hanya respons terhadap ancaman kesehatan, tetapi juga upaya menjaga stabilitas ekonomi dan mobilitas lintas batas. Ketiga negara, yang akan menjadi tuan rumah pertama dalam sejarah Piala Dunia dengan tiga negara peserta, berkomitmen menjaga kelancaran perjalanan dan perdagangan tanpa mengorbankan keamanan publik.
Pengumuman ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran global terhadap potensi penyebaran virus Ebola melalui pergerakan massal manusia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebelumnya telah memperingatkan bahwa pertemuan besar seperti Piala Dunia bisa menjadi katalisator penyebaran penyakit menular jika tidak diantisipasi dengan ketat.
Dengan hanya 13 hari menjelang kick-off, langkah-langkah ini menjadi ujian nyata kemampuan ketiga negara dalam mengelola krisis kesehatan global dalam skala massal—sekaligus menegaskan bahwa olahraga, meski mempersatukan dunia, tidak boleh mengabaikan kewaspadaan terhadap ancaman yang nyata.















