Sumbawanews.com,- Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara terbuka mengumumkan bahwa militer negaranya telah diperintahkan untuk menguasai hingga 70 persen wilayah Jalur Gaza—langkah terbaru dalam kampanye militer yang telah berlangsung selama lebih dari dua tahun. Pernyataan itu disampaikan Netanyahu pada Kamis (28/5), di tengah serangan udara dan darat yang semakin intensif terhadap kantong-kantong sisa Hamas.
Sebelumnya, Israel telah mengendalikan sekitar 64 persen wilayah Gaza. Namun, dengan perintah baru ini, pasukan Israel kini bergerak agresif untuk memperluas zona penyangga yang selama ini diklaim sebagai upaya mencegah serangan balasan dari kelompok bersenjata. “Kami berada di angka 50 persen, kemudian naik menjadi 60 persen. Arahan saya adalah untuk bergerak—langkah demi langkah,” ujar Netanyahu dalam pidatonya. “Pertama-tama, 70 persen. Mari kita mulai dengan itu. Kami menekan mereka dari semua sisi. Kami akan menangani sisa-sisanya.”
Pernyataan itu bukan sekadar retorika. Dalam 48 jam terakhir, serangan udara Israel menargetkan sejumlah pemimpin senior Hamas, termasuk dua tokoh militer yang tewas dalam serangan pada Rabu (27/5). Serangan itu menewaskan 10 orang—lima di antaranya anak-anak—and melukai 18 lainnya, saat warga Gaza tengah merayakan Idul Adha di antara reruntuhan bangunan yang hancur akibat bombardir berkepanjangan.
Bagi warga Palestina, perluasan wilayah yang dikuasai Israel bukan sekadar strategi militer, melainkan bagian dari rencana sistematis untuk menggusur mereka secara permanen dari tanah leluhur. PBB dan sejumlah organisasi hak asasi manusia telah memperingatkan bahwa operasi ini semakin mendekati bentuk pendudukan total, yang melanggar hukum humaniter internasional.
Netanyahu, yang sejak awal menolak gencatan senjata dan menolak semua inisiatif diplomatik yang diusung AS dan sekutu, menegaskan bahwa Israel tidak akan menghentikan operasi hingga “ancaman Hamas benar-benar dihancurkan.” Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa semakin luas wilayah yang dikuasai, semakin dalam penderitaan warga sipil—ratusan ribu orang masih terjebak di tengah kota yang hancur, tanpa akses listrik, air bersih, atau bantuan kemanusiaan yang memadai.
Dengan 70 persen Gaza kini berada di bawah kendali militer Israel, dunia pun dihadapkan pada pertanyaan yang semakin mendesak: apakah ini adalah langkah menuju keamanan, atau justru jalan menuju penghapusan identitas Palestina dari peta geopolitik?















