Sumbawanews.com,- Sejumlah ribuan warga Los Angeles membanjiri jalanan pusat kota pada Minggu (15/6) dalam aksi protes massal menentang kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang diumumkan sehari sebelumnya. Demonstran, sebagian besar keturunan Iran dan keluarga korban konflik selama tiga bulan terakhir, mengecam perjanjian itu sebagai pengkhianatan terhadap nyawa yang hilang dan kehendak rakyat Iran yang sejati.
Mereka membawa spanduk bertuliskan “Tidak Ada Damai dengan Tyrani” dan “Iran Bukan Milik Regim”, sambil menyanyikan lagu-lagu perlawanan dari masa revolusi 1979. Beberapa peserta aksi adalah keluarga korban serangan rudal Iran yang menewaskan warga sipil di Israel dan pangkalan militer AS di Timur Tengah. “Kami tidak bisa menerima damai yang dibangun di atas darah anak-anak kami,” ujar Fatemeh Rahimi, seorang ibu dari Los Angeles yang kehilangan putranya dalam serangan di Teluk Oman.
Kesepakatan yang dicapai di Geneva itu, menurut laporan resmi pemerintah AS dan Iran, mencakup penghentian semua serangan militer, penarikan pasukan dari perbatasan bersama, serta pembukaan kembali jalur diplomasi untuk menyelesaikan sengketa nuklir. Namun, bagi banyak warga Iran di diaspora, perjanjian ini justru memperkuat rezim Teheran yang mereka anggap otoriter dan tidak sah mewakili suara rakyat.
“Ini bukan perdamaian. Ini adalah pengakuan terhadap kekuasaan para mullah yang telah menindas rakyat selama empat dekade,” kata Ali Karimi, mantan jurnalis yang melarikan diri dari Iran setelah ditahan karena kritik terhadap pemerintah.
Aksi protes berlangsung damai, namun tegang. Polisi Los Angeles mengerahkan pasukan anti-kerusuhan di sepanjang rute demonstrasi, sementara sejumlah tokoh politik lokal, termasuk anggota dewan kota, menyatakan dukungan terhadap hak warga untuk bersuara. Di sisi lain, Gedung Putih menegaskan bahwa kesepakatan itu “menyelamatkan nyawa dan membuka jalan bagi stabilitas jangka panjang di kawasan.”
Namun, di tengah sorotan global atas keberhasilan negosiasi, justru di jalan-jalan Los Angeles, sejarah berulang: perdamaian yang dirayakan di ibu kota, ditolak oleh mereka yang paling merasakan luka perang.















