Home Berita Internasional AS dan China Terlibat Perlombaan AI Tanpa Jeda

AS dan China Terlibat Perlombaan AI Tanpa Jeda

Sumbawanews.com,- Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent memperingatkan bahwa AS tidak boleh menghentikan atau memperlambat pengembangan kecerdasan buatan (AI) dalam persaingan ketat dengan China. Dalam diskusi kebijakan State of the Economy yang diselenggarakan Breitbart News di Washington pada Selasa, 8 September 2026, Bessent menegaskan bahwa kehilangan kepemimpinan dalam AI akan berdampak jauh melampaui persaingan ekonomi biasa, mengancam kekuatan strategis nasional AS dalam teknologi, ekonomi, dan keamanan.

Bessent menyatakan bahwa AS saat ini masih unggul berkat ekosistem teknologi yang kuat, menghubungkan pengembang AI, industri semikonduktor, sumber pembiayaan, dan pasar modal. Namun, ia menekankan bahwa keunggulan ini tidak bisa dianggap permanen, mengingat China terus mempercepat investasi dalam infrastruktur AI, pusat data, chip, dan talenta teknis. “Jika mereka menyalip kita dalam AI, maka tidak ada lagi yang penting,” tegasnya, menolak tegas gagasan penundaan pengembangan AI demi alasan keamanan.

Ia menegaskan bahwa penghentian sepihak oleh AS hanya akan memberi ruang bagi China untuk memperluas keunggulannya. “Kita tidak bisa berhenti. China tidak akan berhenti,” ujarnya, menambahkan bahwa negara-negara lain juga tidak akan mengikuti langkah AS untuk memperlambat inovasi. Pandangan ini mencerminkan dilema kebijakan Washington: mempertahankan kecepatan inovasi sambil menghadapi tekanan untuk mengatur risiko penyalahgunaan AI dalam serangan siber, senjata otonom, dan manipulasi informasi.

Menariknya, meski retorika persaingan semakin tajam, AS dan China sedang mempersiapkan dialog bilateral pertama mengenai keamanan AI, yang dijadwalkan berlangsung pertengahan September 2026. Bessent dipastikan memimpin delegasi AS dalam pembicaraan tersebut, sementara pihak China kemungkinan diwakili pejabat tinggi. Salah satu agenda yang diantisipasi adalah pembentukan saluran komunikasi antar laboratorium AI kedua negara untuk mencegah eskalasi teknologi yang tidak terkendali. Dialog ini menjadi bagian dari upaya menjelang pertemuan puncak antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pada 24 September 2026.

Previous articleGubernur DKI Pramono Anung Janji Nonton Langsung Persija vs Persib di GBK
Next articlePersija vs Persib Kembali di SUGBK, Keamanan Jadi Prioritas Utama