Sumbawanews.com,- Manchester City menghadapi krisis multidimensi setelah dinyatakan bersalah atas 114 pelanggaran aturan keuangan Premier League, sebuah keputusan yang berpotensi mengguncang masa depan skuad bintangnya. Meski klub masih mengajukan banding dan hukuman resmi belum ditetapkan, ketidakpastian ini telah memicu kekhawatiran mendalam tentang nasib para pemain, terutama jika City terdegradasi ke Championship. Kontrak para pemain tidak mengandung klausul degradasi, sehingga mereka tidak otomatis bebas hengkang—dan City tetap berhak menuntut biaya transfer dari klub peminat, meski status kompetitif mereka runtuh.
Sebagian besar pemain City, termasuk Erling Haaland dan Gianluigi Donnarumma, memiliki kontrak jangka panjang dengan gaji tinggi dan nilai pasar yang sangat besar. Hal ini membuat klub enggan melepas mereka dengan harga murah, bahkan dalam skenario terburuk sekalipun. Pemain yang ingin pergi pun terjebak dalam dilema: ingin hengkang, tetapi tidak bisa langsung bebas karena tidak ada klausul pelepasan otomatis akibat degradasi. Agen-agen pemain pun menyarankan para bintang untuk menunggu kejelasan hukuman sebelum mengambil keputusan strategis.
Saat ini, hanya empat pemain—Mateo Kovacic, Matheus Nunes, Marcus Bettinelli, dan Geronimo Rulli—yang kontraknya akan habis dalam dua musim mendatang. Ini memberi City ruang waktu untuk menghadapi proses hukum tanpa kehilangan banyak pemain secara otomatis. Namun, tekanan jangka panjang tetap mengancam, terutama menjelang penerapan aturan baru FIFA pada 1 Januari 2027 yang mewajibkan semua kontrak baru mencantumkan klausul pelepasan. Jika City akhirnya terdegradasi, keputusan untuk mempertahankan atau melepaskan bintang-bintangnya akan menjadi ujian terberat dalam sejarah modern klub.















