Sumbawanews.com,- Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta menggelar coaching clinic basket bersama mantan pemain Timnas Indonesia, Jamarr Johnson, di kawasan Masjid Istiqlal, Selasa (9/6/2026). Kegiatan ini menghadirkan pelajar dari Madrasah Istiqlal, SMA Kolese Gonzaga, serta atlet dari Indonesian Deaf Basketball Academy (IDB)—semua bermain dalam satu lapangan, tanpa batas pendengaran atau latar belakang.
Dalam sesi pelatihan yang berlangsung hangat, Johnson tidak hanya mengajarkan teknik dasar dribbling, passing, dan pertahanan, tetapi juga menyampaikan pesan kuat: “Tidak ada batas. Bermimpilah setinggi mungkin, berdoalah, dan bekerjalah sekeras mungkin.” Pesan itu disambut antusias oleh para peserta, terutama para atlet tuli yang tampil penuh semangat dalam pertandingan persahabatan akhir sesi.
Hasilnya mengejutkan: tim atlet tuli menang 8-2 atas tim gabungan pelajar dan pendamping. Johnson terkesan. “Saya benar-benar terkejut. Mereka bermain cerdas, keras, dan penuh strategi. Keterbatasan pendengaran bukan penghalang—hanya perbedaan cara berkomunikasi,” ujarnya.
Perwakilan IDB, Darfian Oscar, mengatakan kehadiran Johnson memberi dampak mendalam. “Ini bukan sekadar latihan basket. Ini adalah bukti nyata bahwa mereka bisa dilihat, dihargai, dan diakui sebagai atlet sejati. Anak-anak pulang dengan mata berbinar dan keyakinan baru bahwa masa depan mereka tidak terbatas.”
Program ini merupakan bagian dari diplomasi olahraga Kedutaan AS yang bertujuan membangun jembatan budaya, memperkuat inklusivitas, dan menunjukkan bahwa olahraga bisa menjadi alat paling kuat untuk menyatukan manusia—bukan karena kesamaan, tapi karena keberanian untuk bermain bersama.
Pejabat Kedutaan AS, John Slover, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar promosi olahraga, tapi pernyataan nilai: “Olahraga mengajarkan kerja sama, disiplin, dan kepercayaan diri. Ketika anak-anak tuli menang di lapangan, mereka juga menang atas prasangka.”
Di bawah langit Jakarta yang cerah, di dekat menara Masjid Istiqlal yang megah, basket bukan lagi sekadar permainan. Ia menjadi simbol—bahwa kesetaraan bukanlah impian, tapi praktik yang bisa dimulai dari satu umpan, satu tembakan, satu sorak tanpa suara yang terdengar jauh lebih keras daripada apa pun.

















