Sumbawanews.com,- Presiden Donald Trump mengungkap operasi militer rahasia yang berhasil mengamankan lebih dari 100 juta barel minyak mentah melintasi Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi titik rawan konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Dalam unggahan di platform Truth Social pada Rabu (10/6), Trump menyatakan bahwa militer AS telah mengawal lebih dari 200 kapal tanker dan kapal komersial melalui perairan tersebut yang diklaim sedang diblokade oleh Teheran.
Menurut Trump, misi yang dilakukan bulan lalu bukan hanya memastikan kelancaran distribusi energi global, tetapi juga menandai peralihan kekuasaan di kawasan itu. “Upaya yang sangat sukses ini terjadi karena AMERIKA SERIKAT MENGENDALIKAN Selat Hormuz, BUKAN Iran,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa kekuatan militer Iran kini “kalah” dan ekonominya “hancur,” menyiratkan bahwa pengaruh Teheran di jalur maritim kunci dunia telah berakhir.
Operasi ini dilakukan di tengah eskalasi ketegangan yang memanas setelah helikopter Apache milik AS ditembak jatuh di dekat Selat Hormuz awal pekan ini—meski tanpa korban jiwa. AS merespons dengan serangan udara terhadap sistem pertahanan udara dan radar Iran, yang kemudian dibalas Teheran dengan serangan drone dan rudal ke pangkalan militer AS di Yordania, Kuwait, dan Bahrain.
Trump tidak hanya mengklaim keberhasilan operasi tersebut, tetapi juga memperkuat tekanan diplomatik dengan mengancam akan “membombardir Iran habis-habisan” jika pemerintah Teheran tidak segera menandatangani kesepakatan yang diajukan Washington. Pernyataannya ini muncul seiring laporan dari sumber lokal Iran bahwa ledakan terjadi di sejumlah kota strategis, termasuk Sirik, Kangan, Bandar Abbas, dan Minab—meski belum ada konfirmasi resmi dari pihak berwenang Iran mengenai penyebabnya.
Meski klaim Trump belum diverifikasi secara independen oleh lembaga pemerintah atau media internasional, pernyataannya memperkuat narasi bahwa AS tengah memperluas dominasi militer di kawasan Teluk, sekaligus mempertanyakan kredibilitas klaim Iran atas kendali atas Selat Hormuz. Dalam konteks geopolitik global, keberhasilan mengamankan 100 juta barel minyak—setara dengan sekitar 1,5 persen konsumsi dunia per hari—menjadi langkah strategis yang bisa memengaruhi stabilitas harga energi dan dinamika kekuatan di pasar minyak internasional.
Sementara itu, pihak Iran tetap membantah klaim bahwa mereka kehilangan kendali atas Selat Hormuz. Kementerian Luar Negeri Teheran menyebut pernyataan Trump sebagai “propaganda politik” yang bertujuan membenarkan agresi militer dan memperlemah posisi tawar Iran dalam negosiasi mendatang.

















