Sumbawanews.com,- Di tengah gelombang transformasi digital, ancaman downtime tak lagi sekadar gangguan teknis, tapi bencana finansial yang bisa menghancurkan operasional perusahaan. Laporan The True Cost of Downtime 2024 mengungkap, pabrik manufaktur skala besar berpotensi rugi hingga USD 253 juta (sekitar Rp4,5 triliun) per tahun akibat gangguan sistem tak terduga. Kerugian ini berasal dari berhentinya rantai produksi, hilangnya pendapatan, biaya perbaikan darurat, hingga reputasi yang rusak akibat keterlambatan pengiriman.
VP of Marketing Biznet Gio, Hari Syah Agam, menegaskan bahwa downtime kini berdampak langsung pada kelangsungan bisnis secara keseluruhan, bukan hanya pada divisi TI. Untuk menghindari titik kegagalan tunggal, banyak perusahaan beralih ke strategi hybrid cloud. Temuan Flexera 2026 State of the Cloud Report menunjukkan, 73 persen organisasi global telah mengadopsi model ini demi menjamin efisiensi dan ketahanan operasional.
Menjawab tren ini, Biznet Gio bekerja sama dengan Rainer Server meluncurkan GIO Hybrid Cloud Infrastructure. Solusi ini mengintegrasikan keandalan infrastruktur on-premise dengan fleksibilitas layanan cloud, menciptakan redundansi yang memastikan kelangsungan bisnis bahkan saat salah satu sistem mengalami gangguan. Layanan ini menjanjikan garansi uptime hingga 99,9 persen dan telah bersertifikasi ISO 27001, PCI DSS, serta AICPA SOC.
Managing Director Indo Mega Vision, Sugiyanto Sutikno, menekankan bahwa fleksibilitas dan kontinuitas infrastruktur adalah kunci utama bertahan di era digital. Kolaborasi ini dirancang untuk menjamin ketahanan sekaligus efisiensi investasi TI perusahaan.















