Sumbawanews.com,- Penelitian selama 25 tahun mengungkap bahwa anjing bertelinga pendek, atau “anjing hantu” Amazon, ternyata lebih banyak daripada perkiraan sebelumnya, meski tetap sulit ditemukan di alam liar. Studi yang berlangsung dari 2001 hingga 2024 menggunakan 34 kamera jebak di hutan hujan Bolivia utara dan Peru tenggara, menghasilkan 4.635 foto dan 594 penampakan terpisah—data terbesar yang pernah direkam untuk spesies ini. Meski kamera awalnya dipasang untuk memantau jaguar dan ocelot dengan umpan parfum, anjing bertelinga pendek justru sering terekam secara tak sengaja. Peneliti memperkirakan kepadatan populasinya mencapai 15 individu per 100 kilometer persegi, namun hanya muncul di 21 dari 34 lokasi survei, dengan aktivitas paling tinggi pada siang hari, terutama pukul 06.00 hingga siang.
Temuan ini menunjukkan bahwa satwa ini sangat bergantung pada hutan primer yang utuh, hampir seluruhnya tercatat di taman nasional dan wilayah adat yang dilindungi, serta hampir tidak pernah muncul di area yang terfragmentasi. Robert Wallace dari Wildlife Conservation Society, penulis utama studi, menyatakan bahwa keberadaan anjing bertelinga pendek bisa menjadi indikator kesehatan ekosistem Amazon. Ia menekankan bahwa strategi konservasi terpenting adalah melindungi tutupan kanopi hutan melalui kawasan lindung dan pengelolaan berkelanjutan wilayah adat. Dengan demikian, meski sulit dilihat, spesies yang dianggap mitos ini masih memiliki peluang bertahan asalkan hutan Amazon tetap terjaga.















