Sumbawa Barat, sumbawanews.com – Sejumlah bangunan dan program pemberdayaan yang sebelumnya dibangun oleh PT Amman Mineral Nusa Tenggara diduga mangkrak dan tidak lagi terurus. Salah satu yang menjadi sorotan adalah program pengolahan limbah organik dengan metode budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) yang berada di beberapa wilayah lingkar tambang.
Dari hasil penelusuran tim media sumbawanews.com, sejumlah fasilitas yang pernah dibangun untuk mendukung pengelolaan sampah organik dan pemberdayaan masyarakat kini terlihat terbengkalai. Kondisi tersebut ditemukan di beberapa titik, di antaranya wilayah Kecamatan Sekongkang dan Kecamatan Maluk, Kabupaten Sumbawa Barat.
Bangunan yang sebelumnya digadang-gadang menjadi pusat edukasi dan pengolahan limbah organik itu kini tampak tidak lagi beroperasi secara maksimal. Beberapa fasilitas terlihat tidak terawat, sebagian peralatan tidak digunakan, bahkan ada lokasi yang mulai ditumbuhi semak.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, perusahaan disebut telah menggelontorkan anggaran hingga ratusan juta rupiah untuk mendukung program tersebut. Namun sangat disayangkan, program yang diharapkan menjadi solusi pengelolaan sampah organik itu justru tidak berjalan optimal.
Selain itu, sejumlah pihak menilai pelaksanaan program terlalu banyak melibatkan mitra kerja dari luar daerah, sementara sumber daya manusia (SDM) di wilayah lingkar tambang dinilai memiliki kemampuan untuk menjalankan program tersebut secara mandiri.
Tim media kemudian mencoba menelusuri penyebab program tersebut tidak berjalan sebagaimana mestinya. Dalam penelusuran tersebut, awak media bertemu dengan salah seorang pegiat lingkungan di wilayah lingkar tambang yang menyayangkan kondisi tersebut.
“Sayang sekali kalau program seperti ini dibiarkan mangkrak. Padahal pengolahan limbah organik dengan budidaya maggot BSF sangat bermanfaat, baik untuk mengurangi sampah maupun meningkatkan nilai ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Ia menilai, banyak anak muda di wilayah lingkar tambang yang sebenarnya memiliki kemampuan dan pengetahuan memadai terkait pengolahan sampah organik maupun budidaya maggot BSF.
Salah satu contoh yang disebut adalah kelompok pemuda Kuli Farm di Desa Benete yang saat ini berkembang secara mandiri tanpa bantuan dari perusahaan. Kelompok tersebut dinilai mampu membuktikan bahwa anak-anak muda lokal memiliki kapasitas dalam mengelola program lingkungan secara berkelanjutan.
“Anak-anak muda seperti di Kuli Farm itu sangat mumpuni. Mereka berkembang sendiri, mandiri tanpa bantuan perusahaan. Ini membuktikan SDM lokal sebenarnya mampu. Sangat disayangkan kalau perusahaan tidak melirik potensi anak-anak muda di lingkar tambang,” tambahnya.
Menurutnya, apabila perusahaan lebih banyak melibatkan SDM lokal dalam pengelolaan program pemberdayaan, maka keberlanjutan program akan lebih terjaga karena masyarakat merasa memiliki dan ikut bertanggung jawab terhadap keberlangsungan fasilitas tersebut.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak PT Amman Mineral Nusa Tenggara belum memberikan keterangan resmi terkait kondisi sejumlah fasilitas dan program yang disebut tidak lagi berjalan optimal tersebut.
Masyarakat berharap program-program pemberdayaan yang telah dibangun tidak hanya menjadi proyek sesaat, melainkan benar-benar dijalankan secara berkelanjutan agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh warga di wilayah lingkar tambang.















