Sumbawa Besar, sumawanews.com – Koordinator Nol Sampah Surabaya, Hermawan Some mengungkapkan, berdasarkan perhitungan Bank Dunia, masyarakat Indonesia musti mengluarkan biaya perawatan kesehatan sekitar Rp 67 triliun pertahun, akibat sampah dan sanitasi. Sehingga persoalan sampah, tidak hanya berfokus pada penanganan semata, namun juga musti mendorong upaya pengurangan.
“Kalau sampah ini tidak diurus dengan benar, akan ada banyak pengeluaran yang dikeluarkan oleh warga. Akan banyak orang sakit, dan itu butuh biaya perawatan untuk pengoatan. bElum lagi dia tidak bisa bekerja karena sakit. bAnk dunia pernah menghitung, masyarakat Indonesia kehilangan Rp 67 triliun pertahun gara-gara sampah dan sanitasi tidak diurus dengan benar,” katanya, di ruang kerja camat sumawa, Senin (07/02).
Ia menegaskan, kunci pengangan sampah terletak pada partisipasi masyarakat. “Kuncinya adalah dipartisipasi, adalah agamana mendorong partisipasi warga itu yang penting. Kalau saya melihat, partisipasinya harus dimulai dari skala RT, RW. Ketua RT dan RW tahu warganya, warganya pasti tahu ketua RT dan RW-nya. Dan ketika ketua RT dan RW ngajak warganya, pasti mau. Karena pengalaman di kota-kota lain seperti itu.
Namun dalam penanganan, jangan melupakan upaya untuk melakukan pengurangan sampah. Atau upaya untuk mengurangi produksi sampah sebelum adanya sampah. Yakni dengan merungai sampah makanan, kemudian mengurangi sampah kantong plastic. Sebab, langkah pertama yang dapat dilakukan dengan anggaran yang minim, yakni melakukan upaya pengurangan sampah.
“Kadang-kadang kita sering lupa di pengurangannya, kita sering mikir sampah itu setelah ada sampah. Harusnya kita berfikir sebelum ada sampah itu, kita lakukan apa untuk mengurangi produksi sampah. Coba dicek, 50 persen sampah kita adalah sampah dari makanan. Misalnya kita belanja ke pasar, biasakan selalu bawa tas dari rumah. karena kalau belanja ke pasar dan bawa pulang kresek bisa 10 kresek sehari. Kalau ada 10 riu orang yang elanja kepasar sehari, bisa dihitung erapa sampah plastiknya.
Dikatakan, Nol Sampah Surabaya, bersedia mendukung kegiatan dan uapaya yang terkait dengan persoalan sampah. “kami lebih banyak kepada bagaimana mengajak orang, partisipasi warga. Kalau dibutuhkan, kami siap melakukan advokasi,” katanya.
Disebutkan, dalam penanganan sampah, idealnya harus didukung oleh 5 instrumen, antara lain kelembagaan, regulasi, partisipasi masyarakat dan pembiayaan. “Pembiayaan ini kan instrument penting. Kan pemerintah daerah pasti isa menghitung, berapa sih produksi sampah kita setiap hari. jadi tergambar berapa sih kebutuhan minimal kita untuk mengangkut dan lainnya,” jelasnya. (Using)

















