Sumbawanews.com,- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini tsunami setelah gempa tektonik berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, pada Senin pagi pukul 06.37 WIB. Getaran kuat yang berpusat di kedalaman 105 kilometer itu memicu kewaspadaan tinggi di enam provinsi pesisir, termasuk wilayah yang berjarak jauh dari episenter.
Episenter gempa tercatat berada di koordinat 5,69 derajat lintang utara dan 125,05 derajat bujur timur, tepat di laut lepas sebelah timur Pulau Sangihe. Meski tidak langsung menghantam daratan, kekuatan dan kedalaman gempa yang signifikan membuat BMKG menetapkan status peringatan tsunami untuk wilayah Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, dan Kalimantan Timur. Pemerintah daerah diminta segera mengaktifkan prosedur evakuasi dini, terutama di kawasan pesisir dengan topografi datar dan rendah.
Hingga berita ini diupdate, belum ada laporan resmi mengenai kerusakan infrastruktur atau korban jiwa. Namun, getaran kuat terasa hingga ke wilayah Bitung dan Manado, dengan sejumlah warga melaporkan peralatan rumah tangga bergoyang dan jendela bergetar. Masyarakat di sepanjang pantai diminta untuk segera menjauh dari bibir pantai, menghindari dermaga, dan tidak mendekati sungai yang bermuara ke laut—karena tsunami bisa datang dalam waktu kurang dari satu jam setelah gempa.
BMKG menekankan bahwa peringatan ini bersifat preventif, berdasarkan model simulasi gelombang laut yang diprediksi bisa mencapai ketinggian hingga beberapa meter di beberapa titik pesisir. Pusat Pengendali Operasi (Pusdalops) BPBD di seluruh wilayah terdampak telah diperintahkan untuk mengaktifkan posko darurat, memastikan jalur evakuasi tetap terbuka, dan menyebarkan informasi melalui sirene, media sosial, dan sistem peringatan dini berbasis SMS.
Masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun waspada, mengikuti instruksi resmi dari petugas setempat, dan tidak menyebarkan informasi tidak terverifikasi. Kepala BMKG mengingatkan bahwa Indonesia berada di zona subduksi aktif, di mana gempa besar berpotensi terjadi kapan saja—dan kesiapsiagaan adalah satu-satunya benteng terbaik menghadapi bencana alam.
Pemantauan terus dilakukan secara real-time. BMKG akan memberikan update terbaru jika ada perubahan status atau indikasi bahwa gelombang tsunami benar-benar terjadi. Sementara itu, Tim Reaksi Cepat BNPB telah siap diterjunkan jika diperlukan, bersiap menghadapi kemungkinan dampak lanjutan pasca-gempa.

















