Sumbawanews.com,- Airbus berhasil mencatatkan kemajuan strategis dalam persaingan pengadaan drone tempur bagi Angkatan Udara Jerman setelah berhasil menerbangkan pesawat tanpa awak U740 Valkyrie di Eropa pada 29 September 2026. Penerbangan perdana yang berlangsung di fasilitas pengujian Eropa Utara itu mencapai kecepatan Mach 0,8 dan ketinggian 9.100 meter, menjadi bukti teknis pertama dari platform yang dikembangkan bersama Kratos Defense & Security Solutions. Keberhasilan ini menjadi modal penting bagi Airbus dalam memperebutkan kontrak senilai miliaran euro untuk menyediakan hingga 500 drone tempur pendamping bagi Bundeswehr, yang rencananya akan mendukung jet tempur Eurofighter Typhoon. Meski demikian, pengujian belum mencakup misi tempur taktis atau integrasi sistem kecerdasan buatan MARS yang menjadi syarat utama operasional.
Pemerintah Jerman sedang merumuskan kebutuhan drone tempur bermesin jet dengan kemampuan membawa muatan hingga 500 kilogram dan jangkauan minimal 1.000 kilometer, berbeda dari drone pengintai atau amunisi berkeliaran. Laporan Handelsblatt pada 8 Juli 2026 menyebut rencana pengadaan hingga 500 unit, sementara Bayerischer Rundfunk pada 8 Juni 2026 menyebut angka 400 unit—menunjukkan bahwa jumlah akhir belum ditetapkan. Jadwal kesiapan operasional yang awalnya ditargetkan 2029 kini tidak lagi dianggap mengikat, karena Kementerian Pertahanan Jerman menerapkan pendekatan kompetisi teknologi, di mana perusahaan harus membuktikan kemampuan mereka melalui uji terbang, bukan hanya menawarkan spesifikasi.
Airbus kini menjadi satu-satunya pesaing yang telah menunjukkan penerbangan nyata di Eropa. U740 Valkyrie diluncurkan dengan bantuan roket, lalu melanjutkan penerbangan mandiri dengan mesin utama, melakukan manuver, dan mendarat dengan parasut setelah misi. Namun, sistem misi tempur lengkap—termasuk komunikasi dengan pesawat berawak, pengolahan data taktis, dan pengendalian senjata—belum diuji. Airbus menargetkan pengujian lanjutan dengan sistem MARS pada 2027, diikuti serangkaian penerbangan hingga awal 2028 untuk mematangkan kemampuan operasionalnya.
Rheinmetall, Boeing, dan Helsing tetap menjadi pesaing kuat, namun hingga kini belum ada laporan penerbangan serupa dari mereka. Pemerintah Jerman menekankan bahwa keputusan pembelian akan didasarkan pada hasil uji teknis, bukan janji atau desain. Dengan demikian, keberhasilan Airbus bukanlah jaminan kemenangan, tetapi telah mengubah peta persaingan dengan membuktikan bahwa platformnya bisa terbang—dan itu adalah langkah pertama yang tak bisa diabaikan.















