Sumbawanews.com,- Fenomena menceritakan masalah pribadi atau rahasia kepada chatbot AI semakin marak, namun pengguna sering tidak menyadari bahwa percakapan mereka tidak selalu privat. Survei DuckDuckGo Research terhadap 1.944 orang dewasa di Amerika Serikat pada Agustus 2026 menunjukkan 32% pengguna AI pernah berbagi hal yang tidak pernah diungkapkan kepada orang terdekat atau tenaga medis, dengan angka itu meningkat menjadi 56% di kalangan penggemar AI. Lebih dari setengah responden—53%—tidak tahu atau yakin bahwa percakapan mereka secara bawaan digunakan untuk melatih model AI, sementara hanya 25% yang menyadari bahwa data tersebut bisa diminta oleh penegak hukum.
Chatbot AI, termasuk layanan seperti Google Gemini, dapat menyimpan percakapan pengguna dan menggunakannya untuk meningkatkan kemampuan model melalui proses yang disebut data memorization. Peneliti dari University of Washington, Uttara Ananthakrishnan, menjelaskan bahwa model bahasa AI mampu mereproduksi informasi pribadi yang pernah disampaikan dalam obrolan. Risiko ini semakin nyata ketika akun AI digunakan untuk keperluan kerja, di mana perusahaan memiliki akses terhadap riwayat percakapan. Survei tersebut juga menemukan 58% responden merasa tidak nyaman setelah mengetahui percakapan mereka bisa dipakai untuk pelatihan AI, sementara hanya 14% yang percaya perusahaan AI mampu menjaga keamanan datanya.
Oleh karena itu, pengguna diminta berhati-hati dalam membagikan informasi sensitif seperti nama lengkap, alamat, nomor identitas, atau data keuangan. Tanpa memahami kebijakan privasi layanan yang digunakan, apa yang dianggap sebagai curhat pribadi bisa berubah menjadi bahan pelatihan sistem atau bahkan diakses oleh pihak ketiga.















