yang tak punya jabatan
ialah seyogyanya raja.
ia tak takut tatkala
digeser dari kursi
lantaran ia cukup duduk di lantai.
tak ada nafsu bagi maling
pada rakyat biasa.
tak mungkin mereka mau mencuri
kemiskinan kami, bukan?
betapa bahagianya kemiskinan ini
yang membuatku mendayagunakan
tangan, kaki, telinga dengan maksimal.
Tidak bermanja-manja
pada dayang-dayang.
hatiku pun amat kokoh melebihi
tembok-tembok istana para penguasa.
Disitulah hakikat dari ketahan dan lepas dari
jerat tali temali keterikatan duniawi.
Purbalingga, 2026
Yanuar Abdillah Setiadi Lahir di Purbalingga, Januari 2001. Mukim di Desa Timbang, Kecamatan Kejobong, Kabupaten Purbalingga. Mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan Islam UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Alumnus Pendidikan Bahasa Arab di kampus yang sama. Menulis di 50 website Nasional. Tiga buku mutakhirnya berjudul Mengaji Pada Alif (2023), Melihat Lebih Dekat (2024). Wajah Purwokerto: Antara Cinta, Suka dan Duka di Kota Satria (2026). Menjadi pembicara di beberapa seminar kepenulisan. Nominator Terminal Award Mojok.co Yogyakarta tahun 2023. Karyanya termuat di berbagai media. Instagram: @yanuarabdillahsetiadi.












