Sumbawanews.com,- Presiden FIFA Gianni Infantino menghadapi tekanan politik terberat dalam kepemimpinannya, setelah sejumlah konfederasi besar—UEFA, AFC, dan CONCACAF—dilaporkan membahas mosi tidak percaya terhadapnya. Namun, di tengah gelombang ketidakpercayaan itu, Federasi Sepak Bola Arab Saudi (SAFF) secara terbuka menyatakan dukungan penuh kepada Infantino, menilai upayanya memulihkan persatuan di tubuh FIFA sebagai langkah yang tepat. Dukungan ini muncul setelah rencana kontroversial FIFA Forward Enterprise—yang mengusulkan penjualan 20 persen saham hak siar turnamen FIFA—dibatalkan akibat protes luas, dan menjadi titik balik ketegangan antara FIFA dan federasi anggotanya.
SAFF, yang akan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2034, menegaskan bahwa keputusan FIFA untuk mengakui kesalahan dan mencabut rencana tersebut patut dihargai. Dalam pernyataan resmi pada Kamis, SAFF menyerukan semua pihak untuk segera duduk bersama dalam dialog tatap muka guna menghindari perpecahan lebih dalam. Federasi ini juga mengapresiasi kontribusi Infantino selama hampir satu dekade dalam pengembangan sepak bola global, sekaligus menekankan pentingnya transparansi dan komunikasi terbuka dalam tata kelola organisasi.
Dukungan Arab Saudi memiliki bobot strategis. Melalui Public Investment Fund (PIF), negara itu telah menjadi mitra utama FIFA dalam penyelenggaraan Piala Dunia Antarklub 2025 dan menjadi pendukung resmi untuk kawasan Amerika Utara serta Asia di Piala Dunia 2022. Kedekatan ini menjadikan suara SAFF sebagai penyeimbang politik yang krusial, terutama saat Italia, salah satu federasi bersejarah, secara terbuka menarik dukungannya terhadap pencalonan Infantino untuk masa jabatan keempat pada pemilihan Maret mendatang.
Meski UEFA sempat mengancam menarik diri dari Piala Dunia Wanita U-20 di Polandia, ancaman itu kini dicabut setelah FIFA memberikan jaminan bahwa rencana penjualan saham hak siar tidak akan dihidupkan kembali. Namun, posisi Infantino tetap rapuh: sejumlah federasi nasional masih mempertanyakan arah kepemimpinannya, dan Dewan FIFA yang beranggotakan 37 orang—termasuk Presiden SAFF Yasser Al Misehal—belum menggelar rapat resmi untuk membahas krisis ini. Sementara itu, Infantino baru-baru ini bertemu dengan tim manajemen FIFA di Rabat, Maroko, sebagai bagian dari upaya meredam ketegangan.
Dengan Piala Dunia 2034 di depan mata dan pengaruh finansial serta politik Arab Saudi yang terus meningkat, dukungan SAFF bukan sekadar simbolis—ia menjadi salah satu tiang penyangga terakhir yang mungkin menyelamatkan legitimasi Infantino di panggung sepak bola dunia.















