Sumbawanews.com,- Petarung berdarah Indonesia-Belanda, Bilal Hasan, tampil memukau dalam sesi face-off menjelang debutnya di UFC Fight Night 286 di Shanghai, China, pada Sabtu, 29 Agustus. Dengan gerakan ikonik dan suara khas “hee-hee” ala Michael Jackson, ia mencairkan ketegangan sebelum menghadapi petarung asal Peru, Nilson Rojas, di kelas Flyweight. Aksi itu tak hanya mengundang tawa, tapi juga membuat kedua petarung saling berpelukan dan tersenyum, menciptakan momen tak terlupakan sebelum pertarungan dimulai.
Debut di UFC menjadi puncak perjalanan Bilal, yang sebelumnya menarik perhatian dunia MMA lewat kemenangan cepat di Dana White’s Contender Series Season 10. Pada 12 Agustus 2026, ia menghentikan petarung India, Mridul Saikia, dalam waktu hanya 45 detik lewat Technical Knockout (TKO), mempertahankan rekor sempurna: sembilan kemenangan tanpa satu pun kekalahan. Kemenangan itu mengantarkannya ke panggung terbesar MMA dunia, sebuah pencapaian yang ia anggap sebagai berkat, bukan beban.
“Tekanan itu sungguh sebuah privilese. Saya amat bersyukur untuk setiap detiknya,” ujar Bilal, menegaskan sikapnya yang tenang meski berada di bawah sorotan global. Ia mengakui banyak pengorbanan yang ia lalui—latihan berat, penurunan berat badan ekstrem, hingga pukulan yang mendera tubuhnya—namun semua itu ia jalani dengan rasa syukur. “Bahkan ketika saya dipukuli, saya bersyukur berada di posisi ini.”
Bilal menekankan bahwa ia tidak terburu-buru mencari kemenangan. “Saya mencoba tidak buru-buru. Saya ingin rileks, tenang, dan melakukan apa yang harus saya lakukan. Setelah bisa menikmati proses dan santai, kuncian atau finish itu datang sendiri.” Meski demikian, ia tak menutup kemungkinan untuk mengakhiri pertarungan di ronde pertama—dengan KO. “Idealnya memang menang di ronde pertama, tapi saya tidak ingin buru-buru. Saya ingin relaks dan tetap tenang dalam melakukan ini.”
Dengan gaya unik, mental baja, dan rekor tak terkalahkan, Bilal Hasan bukan sekadar petarung yang debut di UFC—ia adalah simbol harapan bagi atlet Indonesia di kancah internasional, yang membuktikan bahwa keberanian, keikhlasan, dan kegigihan bisa menembus batas-batas geografis dan budaya.















