Sumbawanews.com,- Paris Saint-Germain bersiap menghadapi Aston Villa dalam laga Piala Super Eropa, Kamis (13/8) dini hari WIB, di Stadion Red Bull Arena, dengan misi mulia: menyamai rekor tiga gelar Liga Champions berturut-turut yang diraih Real Madrid pada 2015/2016 hingga 2017/2018. Pelatih PSG, Luis Enrique, secara eksplisit menyebut pencapaian Madrid sebagai patokan ambisinya, bukan sekadar mengejar trofi Piala Super Eropa, tetapi menorehkan sejarah di level tertinggi sepak bola Eropa. Ini menjadi penampilan kedua berturut-turut PSG di ajang ini setelah menjuarai Liga Champions musim lalu, membuktikan transformasi klub dari tim yang dianggap “bukan unggulan” menjadi salah satu kekuatan utama benua biru. “Tidak ada tim di Eropa yang lebih termotivasi daripada kami,” tegas Enrique, menegaskan bahwa status favorit kini sudah menjadi milik PSG, tetapi mempertahankannya memerlukan kerja lebih keras.
Enrique menekankan bahwa rekor tiga gelar Liga Champions beruntun oleh Real Madrid—yang dicatatkan di bawah asuhan Zinedine Zidane—adalah pencapaian di luar batas normal, hampir tak terbayangkan dalam sejarah sepak bola modern. Ia mengakui bahwa dua tahun lalu, sulit membayangkan PSG bisa masuk daftar calon juara, apalagi menembus final dua musim berturut-turut dan akhirnya menjuarai Liga Champions. Kini, semua orang mengakui kekuatan PSG, tetapi Enrique menolak puas. “Itu adalah status yang telah kami raih,” ujarnya, “tapi untuk mempertahankannya, kami harus bekerja lebih keras lagi.”
Laga melawan Aston Villa bukan sekadar pembuka musim, melainkan ujian pertama dalam upaya mengejar sejarah. Jika menang, PSG akan mengukir nama sebagai tim pertama selain Real Madrid yang mampu meraih tiga gelar Eropa berturut-turut—sebuah target yang jauh lebih besar dari sekadar trofi Piala Super Eropa.















