Sumbawanews.com,- Puluhan warga sipil Iran tewas dan lebih dari 500 lainnya terluka akibat serangan militer Amerika Serikat yang berlangsung selama tujuh malam berturut-turut sejak 6 Juli 2026. Serangan tersebut juga menghancurkan fasilitas desalinasi air laut, memutus akses air bersih bagi sekitar 10 ribu warga. Pemerintah Iran menangguhkan nota kesepahaman (MoU) Islamabad dengan AS, menuduh Washington melanggar seluruh komitmen kesepakatan. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan AS telah menghentikan kewajibannya dalam MoU, sehingga Teheran pun membatalkan kewajibannya dan memfokuskan seluruh sumber daya pada pertahanan nasional. Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei memperingatkan akan memberikan “pelajaran yang tak terlupakan” jika serangan berlanjut, sementara Iran melancarkan serangan balasan berupa drone dan rudal terhadap sekutu-sekutu AS di Teluk.















