Sumbawanews.com,- Lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz hampir berhenti total setelah Amerika Serikat melancarkan serangan beruntun terhadap Iran pada 8 dan 9 Juli 2026. Data pelacakan kapal menunjukkan hanya sejumlah kecil kapal besar yang melintasi jalur strategis itu, dengan hanya satu supertanker yang dikenai sanksi AS dan satu kapal kontainer berbendera Iran yang tercatat keluar dari Teluk. Sehari sebelumnya, hanya 14 kapal kargo yang lewat—jumlah terendah sejak kesepakatan gencatan senjata sementara antara AS dan Iran ditandatangani pada 16 Juni 2026.
Serangan AS diluncurkan setelah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa serangan Iran terhadap kapal-kapal dagang di Selat Hormuz menandai berakhirnya gencatan senjata yang rapuh. Serangan itu menargetkan sejumlah fasilitas militer dan pelabuhan di Iran, termasuk lokasi di Bushehr, Chabahar, Konarak, Bandar Abbas, dan Sirik. Pihak militer AS menyatakan serangan itu bertujuan melemahkan kemampuan Iran mengancam kebebasan navigasi di selat itu, yang menjadi jalur vital bagi seperlima perdagangan minyak dan gas alam dunia.
Iran membalas dengan menyerang fasilitas militer AS di Teluk Persia dan menegaskan bahwa kesepakatan gencatan senjata memberinya hak mengatur lalu lintas di Selat Hormuz. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf menegaskan dalam unggahan di X bahwa “era perundungan dan pemerasan sudah berakhir” dan Iran tidak akan tunduk. Trump, dalam unggahan media sosialnya, memperingatkan bahwa jika serangan terhadap pelayaran terulang, situasi akan “jauh lebih buruk,” sambil mengancam akan menyerang infrastruktur sipil Iran, termasuk pembangkit listrik dan fasilitas desalinasi, serta merebut Pulau Kharg.
Sebelumnya, pada 7 Juli, tiga kapal tanker diserang, memicu rangkaian balasan beruntun antara kedua negara. Trump menyatakan operasi militer ini akan berlangsung cepat, namun tidak menutup kemungkinan penuntasan penuh.















