Sumbawanews.com,- Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menegaskan bahwa kontribusi militer negaranya terhadap keamanan Eropa sering kali diabaikan, meski Ankara merupakan kekuatan militer terbesar kedua di NATO setelah Amerika Serikat. Pernyataan itu disampaikan Erdogan dalam pertemuan dengan delegasi parlemen dari 32 negara anggota NATO di Istanbul pada Senin, 30 Juni 2026, menjelang KTT NATO yang berlangsung 7–8 Juli.
Erdogan meminta agar Turki dilibatkan secara penuh dalam semua inisiatif pertahanan dan keamanan Uni Eropa, termasuk program Security Action for Europe (SAFE) senilai 150 miliar euro yang dirancang untuk memperkuat industri pertahanan Eropa dan mengurangi ketergantungan pada pasokan luar kawasan. “Kontribusi Turki yang sangat penting bagi keamanan Eropa terkadang diabaikan,” ujarnya, menekankan bahwa Ankara bukan sekadar mitra pasif, tetapi aktor strategis dengan kapasitas operasional dan industri pertahanan yang telah terbukti.
Turki tidak hanya menyumbang jumlah personel terbanyak kedua di NATO, tetapi juga telah berkembang menjadi salah satu eksportir senjata terbesar di dunia. Melalui perusahaan seperti Baykar, Turki memasok drone tempur Bayraktar TB2 yang telah digunakan secara luas di konflik modern mulai dari Libya, Nagorno-Karabakh, hingga Ukraina. Industri pertahanan dalam negeri kini juga mengembangkan jet tempur generasi kelima KAAN, pesawat nirawak Kizilelma, kapal induk drone TCG Anadolu, serta sistem pertahanan udara dan rudal canggih yang semakin diminati negara-negara di Eropa, Timur Tengah, dan Afrika.
Keunggulan utama Turki terletak pada pengalaman tempur yang tak dimiliki banyak anggota NATO lainnya. Peralatan buatan dalam negeri telah diuji di medan perang nyata, menjadikannya pilihan menarik bagi negara-negara yang mencari solusi pertahanan yang efektif, terjangkau, dan siap pakai. Selain itu, posisi geografis Turki—mengendalikan Selat Bosporus dan Dardanelles, pintu gerbang antara Laut Hitam dan Mediterania—tetap menjadi faktor penentu dalam keamanan maritim Eropa, terutama setelah perang Rusia-Ukraina mengguncang stabilitas kawasan.
Erdogan menekankan bahwa permintaan Turki bukanlah tuntutan eksklusif, melainkan upaya untuk menyesuaikan arsitektur pertahanan Eropa dengan realitas kekuatan yang ada. “Kami mengharapkan dukungan Anda untuk dimasukkannya Turki dalam inisiatif pertahanan dan keamanan yang diumumkan Uni Eropa,” ujarnya, menyerukan solidaritas dalam menghadapi ancaman bersama, bukan pengabaian terhadap fakta bahwa Turki telah lama menjadi tulang punggung pertahanan Atlantik.















