Sumbawanews.com,- Sony mengumumkan rencana strategis untuk menghentikan produksi cakram fisik game PlayStation secara permanen mulai Januari 2028. Sejak tanggal itu, semua judul game baru yang dirilis untuk platform PlayStation akan tersedia eksklusif dalam bentuk digital—baik melalui PlayStation Store maupun kode digital yang dijual oleh pengecer pihak ketiga. Kebijakan ini tidak berlaku retroaktif; game-game yang sudah dirilis sebelumnya, atau yang akan dirilis hingga akhir 2027, tetap akan mendapat edisi fisik.
Dilansir dari GSM Arena, keputusan ini diambil seiring perubahan perilaku konsumen dan transformasi besar dalam industri hiburan digital. Sony menyatakan bahwa mayoritas pemain PlayStation kini lebih memilih membeli game secara online, baik karena kenyamanan, akses instan, maupun integrasi dengan layanan berlangganan seperti PlayStation Plus.
Selama lebih dari tiga dekade, cakram fisik menjadi tulang punggung pengalaman bermain konsol. Kemampuan untuk memegang kotak game, memasukkan cakram ke dalam mesin, dan menyimpannya di rak menjadi simbol kebanggaan kolektor dan kepercayaan akan kepemilikan sejati. Namun di balik romantisme itu, media fisik menyimpan tantangan bisnis yang semakin sulit diabaikan: game fisik dapat dengan mudah dipinjam, dijual kembali, atau dibeli dalam kondisi bekas—praktik yang mengurangi pendapatan langsung penerbit dan platform. Pengecer luring juga kerap memberikan diskon agresif, memicu perang harga yang menggerus margin keuntungan pasca-penjualan pertama.
Di sisi lain, para penggemar setia tetap mempertahankan argumen bahwa kepemilikan fisik menjamin akses abadi. Tidak seperti versi digital yang bergantung pada server, lisensi, dan kelangsungan layanan digital, game fisik tetap bisa dimainkan selama perangkatnya berfungsi—bahkan jika Sony atau platform lainnya kelak menghentikan layanannya. Bagi banyak pemain, ini bukan sekadar soal kenangan, tapi jaminan bahwa pengalaman bermain tidak akan lenyap bersama waktu atau keputusan korporat.
Dengan langkah ini, Sony mengambil posisi tegas dalam peralihan menuju ekonomi digital penuh—meski tantangan tentang warisan budaya bermain game dan hak kepemilikan pemain tetap menjadi diskusi yang tak kunjung usai.















