Sumbawanews.com,- Kegagalan Belanda tersingkir dari Piala Dunia 2026 usai dikalahkan Maroko lewat adu penalti memicu kemarahan legenda sepak bola dunia, Zlatan Ibrahimovic. Dalam wawancara eksklusif dengan FOX Sports, striker berusia 44 tahun itu tidak segan menyalahkan pelatih Ronald Koeman atas kekalahan memalukan tim Oranje di babak 32 besar.
Belanda, yang unggul 1-0 lewat gol Cody Gakpo di menit ke-72, harus menelan pahitnya kekalahan setelah Issa Diop menyamakan kedudukan pada injury time. Laga berlanjut ke adu penalti, di mana Maroko tampil lebih dingin dan menang 3-2, mengakhiri mimpi Belanda untuk melangkah ke babak 16 besar.
Ibrahimovic, yang pernah menjadi simbol ofensif sepak bola modern, mengatakan bahwa yang ia saksikan bukanlah tim Belanda yang ia kenal. “Saya tidak mengenali tim ini. Ini bukan sepak bola Belanda. Mereka kalah bukan karena kurang kualitas, tapi karena kehilangan jati diri,” ujarnya tajam.
Menurutnya, Koeman justru memilih pendekatan defensif ala tim Italia dengan formasi 5-4-1, mengorbankan kekuatan tradisional Belanda: serangan cepat, inisiatif ofensif, dan dominasi bola. “Saya selalu diajarkan: menyerang, menyerang, dan menyerang. Itulah darah Belanda. Tapi hari ini, Koeman bermain seolah takut kalah. Kalau memang harus kalah, kalahlah dengan harga diri, bukan dengan kepasifan.”
Ibrahimovic menyoroti ketidaknyamanan para pemain di lapangan, terutama saat penguasaan bola hilang dan serangan menjadi kaku. “Anda bisa melihatnya dari ekspresi mereka. Mereka bingung, tidak percaya diri. Ini bukan kesalahan pemain — ini kesalahan pelatih.”
Kritik serupa datang dari legenda Prancis Thierry Henry, yang menyebut keputusan Koeman memasukkan bek tambahan sebagai pesan tak tersirat bahwa tim Belanda takut menghadapi Maroko. “Menarik gelandang untuk menambah bek? Itu bukan strategi, itu pengakuan kekalahan sebelum laga dimulai.”
Koeman sendiri tidak mengambil langkah mundur dan tetap tegar. Namun, di tengah kecaman dari legenda sekaliber Ibrahimovic dan Henry, tekanan politik dan publik terhadapnya kini semakin menghangat — terutama di negara yang dulunya bangga dengan sepak bola total dan keberanian menyerang.
Dengan tersingkirnya Belanda, bukan hanya mimpi juara yang pupus, tapi juga sebuah identitas yang seolah sengaja dikubur. Dan bagi Zlatan, itu jauh lebih buruk daripada kekalahan itu sendiri.















