Sumbawanews.com,- Militer Israel resmi memulai fase uji coba penarikan pasukannya dari wilayah selatan Libanon pada Ahad, 28 Juni 2026, sesuai kesepakatan kerangka kerja baru yang ditandatangani oleh kedua negara dengan mediasi Amerika Serikat. Operasi pertama berlangsung pagi hari waktu setempat, dengan pasukan Israel mulai meninggalkan dua zona percontohan di kawasan Nabatieh.
Penarikan ini dilakukan secara terkoordinasi dengan Tentara Libanon, menggunakan saluran komunikasi langsung yang dibangun di bawah pengawasan AS. Tujuannya jelas: memastikan kekuatan nasional Libanon segera mengisi kekosongan keamanan setelah pasukan Israel mundur, sekaligus mencegah kemungkinan penguatan kelompok Hizbullah di perbatasan.
Meski demikian, pejabat keamanan Israel menegaskan bahwa hak untuk menyerang target yang dianggap mengancam tetap berlaku, bahkan setelah perjanjian ini berlaku. “Kami tidak menyerahkan kendali keamanan,” demikian pernyataan resmi yang dikutip media Israel KAN. Penarikan tahap pertama ini dianggap sebagai uji coba strategis—hasilnya akan menentukan apakah dan seberapa cepat penarikan lebih luas akan dilanjutkan.
Di tengah proses ini, Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM), Jenderal Brad Cooper, tiba di Israel pada Jumat, 26 Juni 2026, untuk mengawasi langsung dimulainya operasi penarikan. Kunjungannya, yang belum diumumkan durasinya, menandai peran kunci Washington sebagai mediator dan penjamin keamanan dalam proses yang dinilai rapuh namun bersejarah.
Perjanjian ini menjadi titik balik signifikan setelah bertahun-tahun ketegangan militer di perbatasan, yang sempat memicu serangan balasan berulang antara Israel dan Hizbullah. Dengan dimulainya penarikan pasukan, harapan akan stabilitas jangka panjang mulai muncul—meski tantangan keamanan tetap menggantung di udara.















