Home Berita Nasional Dua Calon Manajer Kopdes Tewas di Latihan Militer

Dua Calon Manajer Kopdes Tewas di Latihan Militer

Sumbawanews.com,- Kementerian Pertahanan mengonfirmasi dua peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) meninggal dunia selama mengikuti Latihan Dasar Militer di bawah pengawasan TNI. Keduanya, Anisa Muyassaroh dan Yonanda Muhammad Taufiq, adalah calon manajer Koperasi Desa Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih yang sedang menjalani pendidikan intensif selama 45 hari hingga 31 Juli 2026.

Anisa, yang mengikuti pelatihan di Satdik Dodikjur Rindam VI/Mulawarman, Balikpapan, meninggal pada 18 Juni 2026 setelah mengalami heat stroke. Meski sempat mendapat penanganan medis di fasilitas kesehatan satuan, kondisinya memburuk dan akhirnya tak tertolong setelah dirujuk ke rumah sakit. Sementara itu, Yonanda meninggal pada 17 Juni 2026 di Satdik Puslatpur Kodiklatad, Baturaja, akibat cardiac arrest. Ia juga telah mendapat pertolongan pertama dari tim medis satuan sebelum dilarikan ke rumah sakit.

Kepala Biro Informasi Pertahanan, Brigjen Rico Ricardo Sirait, menegaskan bahwa keduanya telah melewati seleksi kesehatan ketat sebelum diterima dalam program tersebut. “Semua peserta wajib lulus pemeriksaan medis sesuai standar nasional. Dari hasil awal, keduanya dinyatakan memenuhi syarat,” ujarnya dalam keterangan resmi.

Kemenhan dan TNI langsung memberikan pendampingan kepada keluarga mendiang, termasuk pemenuhan hak-hak sosial dan administratif sesuai prosedur. Namun, insiden ini memicu evaluasi menyeluruh terhadap seluruh aspek penyelenggaraan SPPI — mulai dari mekanisme pemeriksaan kesehatan, protokol pemantauan medis selama pelatihan, hingga sistem komunikasi darurat di lapangan.

Program SPPI, yang menjadi bagian dari strategi pemerintah membangun kepemimpinan lokal berbasis disiplin dan integritas, melibatkan 35.476 calon manajer dari seluruh Indonesia. Sebanyak 30.000 di antaranya adalah calon pengelola Koperasi Desa Merah Putih, sementara 5.476 lainnya ditugaskan untuk mengelola Kampung Nelayan Merah Putih. Pelatihan militer menjadi tahap awal untuk membentuk karakter dan kedisiplinan sebelum mereka ditempatkan di desa-desa dan kampung nelayan sebagai agen perubahan ekonomi lokal.

“Keselamatan peserta adalah prioritas utama,” tegas Rico. “Setiap pembelajaran dari kejadian ini akan menjadi dasar penyempurnaan program agar lebih aman, profesional, dan akuntabel di masa mendatang.”

Insiden ini memicu perdebatan publik tentang keseimbangan antara ketatnya pelatihan militer dan kesiapan fisik peserta, terutama dalam program yang bertujuan membangun kapasitas sosial, bukan militer. Sejumlah pakar pendidikan dan kesehatan masyarakat meminta agar evaluasi kesehatan tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga mempertimbangkan kondisi lingkungan ekstrem, beban psikologis, dan kesiapan adaptasi peserta dari berbagai latar belakang geografis dan sosial.

Kemenhan berjanji akan merilis laporan lengkap evaluasi dalam waktu dekat, termasuk rekomendasi perubahan kebijakan yang akan diterapkan sebelum pelatihan gelombang berikutnya dimulai.

Previous articleNyobeng: Nafas Leluhur yang Masih Hidup di Hutan Bengkayang
Next articleAktor Preman Pensiun Salah Dikenali sebagai DPO, Dikeplak Polisi
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik