Sumbawanews.com,- Presiden Prabowo Subianto menyampaikan candaan ringan di tengah sesi Munas dan Konbes Nahdlatul Ulama di Bangkalan, Jawa Timur, ketika melihat Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo tampil mengenakan peci, meski berpakaian dinas militer. Keduanya, yang biasanya tampil dengan topi resmi sesuai aturan dinas, justru memilih mengenakan tutup kepala khas tradisi Islam saat menghadiri acara keagamaan tersebut.
“Panglima TNI, Kapolri—coba, kalau datang ke NU, tentara pun pakai kopiah, polisi pun pakai kopiah,” ujar Prabowo di hadapan ribuan ulama, kiai, dan pejabat negara, disambut tawa hangat hadirin.
Dia lantas menyindir secara lelucon bahwa tidak ada aturan formal yang mewajibkan anggota TNI dan Polri mengenakan peci saat menghadiri acara keagamaan. “Padahal nggak ada dalam peraturan. Nggak ada. PDL topinya ini kan sudah ditentukan. Berarti harus diubah ya? PDL atau PDH kalau datang ke tempat NU atau Muhammadiyah harus pakai kopiah,” ujarnya, merujuk pada Peraturan Dinas Lapangan (PDL) dan Peraturan Dinas Harian (PDH) yang mengatur seragam militer.
Candaan itu bukan sekadar humor. Ia menyiratkan penghormatan mendalam terhadap tradisi keagamaan yang hidup di tubuh NU, sekaligus menunjukkan keakraban Presiden dengan budaya lokal yang menjadi fondasi kebangsaan. Dalam kesempatan yang sama, Prabowo memuji NU sebagai organisasi yang mampu menyatukan keagamaan dan nasionalisme. Ia menyoroti lagu-lagu tradisi NU yang diciptakan jauh sebelum kemerdekaan, namun sudah mengandung semangat cinta Tanah Air yang mendalam.
“Nahdlatul Ulama adalah organisasi keagamaan, tapi sangat nasionalis, sangat patriotik, sangat cinta tanah air,” kata Prabowo. “Sampai-sampai lagunya yang ditulis sebelum Indonesia merdeka, sudah mengandung nilai-nilai kebangsaan yang luar biasa.”
Acara yang dihadiri sejumlah menteri, pimpinan lembaga negara, dan tokoh NU itu berlangsung hangat. Di antara yang hadir: Ketua MPR Ahmad Muzani, Menko Infrastruktur Agus Harimurti Yudhoyono, Menko Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Agama Nasaruddin Umar, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, dan Ketum Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa.
Candaan Prabowo tentang peci itu pun menjadi simbol kecil dari upaya pemerintah membangun jembatan antara negara dan kekuatan sosial-keagamaan yang selama ini menjadi penopang stabilitas nasional. Bukan soal seragam, tapi soal sikap: bahwa kehadiran negara di tengah masyarakat tidak harus selalu kaku, tapi bisa hadir dengan kehangatan, kepekaan, dan sedikit humor—yang justru membuatnya lebih dekat.
Di tengah suasana yang penuh kekhusyukan, satu candaan itu berubah jadi pesan: bahwa kebangsaan bukan hanya soal hukum dan aturan, tapi juga soal kebiasaan, tradisi, dan keberanian untuk menghargai perbedaan—bahkan dalam hal topi.















