Sumbawanews.com,- Dalam gelap sebelum fajar menyingsing di Desa Hlibuei, Kalimantan Barat, langkah-langkah pelan namun teguh seorang tetua adat memecah kesunyian. Pak Amin, Ketua Adat Dusun Sebujit Baru, berjalan menuju Rumah Baluk—bangunan bulat bertiang tinggi yang bukan sekadar struktur kayu, tapi ruang suci di mana darah leluhur masih berdetak. Di sana, ritual Nyobeng—atau dalam sebutan lokal Gawia Nibakng—mulai berjalan, bukan sebagai pertunjukan, melainkan sebagai napas yang terus dijaga.
Ritual ini, yang telah berlangsung ratusan tahun di kalangan Dayak Bidayuh, bukan sekadar tradisi yang diulang tahunan. Ia adalah jembatan antara dunia yang terlihat dan yang tak terlihat, antara generasi yang masih bernafas dan yang telah kembali ke tanah. Di bawah naungan pepohonan rindang yang mengelilingi kampung, setiap elemen—dari tuak dalam wadah bambu, nasi manis yang melambangkan harapan, hingga daun pinang dan kapur sirih yang disusun dengan hikmat—bukanlah simbol acak. Mereka adalah bahasa lisan yang tak terucap, doa yang diwujudkan dalam bentuk fisik.
Pak Amin, meski tubuhnya tak lagi sekuat dulu, tak pernah absen. Putranya, Gubawan, memapahnya perlahan, tapi setiap langkahnya adalah pengakuan: adat bukan warisan yang dipajang, melainkan tanggung jawab yang diemban. Di sekelilingnya, warga desa bergerak dalam diam. Janur kuning menggantung di depan Rumah Baluk, melambangkan batas antara kehidupan biasa dan kehidupan yang sakral. Tak ada musik keras, tak ada sorakan. Hanya desir angin, suara kaki yang beradu dengan tanah basah, dan hening yang begitu dalam hingga terdengar seperti suara masa lalu.
Ritual ini juga menjadi magnet kebersamaan. Tamu dari kampung tetangga, bahkan dari seberang perbatasan Malaysia, datang bukan sebagai penonton, melainkan sebagai bagian dari keluarga besar yang sama-sama menjaga ingatan. Mereka disucikan dengan air dan doa, bukan untuk membersihkan tubuh, tapi untuk mengembalikan kesadaran: bahwa mereka bukan hanya individu, tapi rantai dalam sebuah silsilah yang tak terputus.
Gregorius Gunawan, Ketua Panitia Nyobeng 2026, menjelaskan: “Kami tidak merayakan masa lalu. Kami mempertahankan keberadaan masa depan.” Dalam dunia yang serba cepat dan sering melupakan akar, Nyobeng menjadi benteng. Ia menolak komersialisasi. Tidak ada tiket masuk, tidak ada panggung utama. Hanya kehadiran—tulus, tanpa pamrih.
Di tengah gempuran modernitas, di kampung-kampung terpencil yang hampir terlupakan, Nyobeng tetap hidup. Bukan karena dipaksakan, tapi karena dipilih. Dipilih oleh para tetua yang tak ingin leluhur menjadi sejarah. Dipilih oleh anak-anak muda yang pulang dari kota, bukan untuk mencari pekerjaan, tapi untuk mencari jati diri. Dipilih oleh seluruh warga yang percaya bahwa kehidupan yang seimbang tak bisa dibangun tanpa menghormati yang telah pergi.
Di ujung malam, saat api unggun mulai memudar dan suara tari Mamiamis perlahan menghilang, seorang nenek tua duduk sendirian di ambang Rumah Baluk, memegang sebutir telur ayam—simbol kehidupan yang tak pernah mati. Ia tak berkata apa-apa. Hanya menatap langit yang mulai berubah warna.
Di sanalah, dalam diam dan keheningan, Nyobeng berbicara paling keras: bahwa leluhur tidak pernah pergi. Mereka hanya berpindah tempat—dari rumah kayu ke rumah hati. Dan selama masih ada yang berjalan ke Rumah Baluk di pagi yang masih gelap, selama masih ada yang menata sesaji dengan tangan yang bergetar tapi penuh cinta, maka nafas mereka—nafas leluhur Dayak Bidayuh—akan tetap hidup.















