Home Berita Nasional Portugal Tertekan, Ronaldo Kehilangan Tajam

Portugal Tertekan, Ronaldo Kehilangan Tajam

Sumbawanews.com,- Pertandingan Portugal melawan Uzbekistan di Stadion NRG, Houston, bukan sekadar laga penyisihan Grup K Piala Dunia 2026—ini adalah ujian kredibilitas bagi tim yang dulu dianggap sebagai calon juara. Di balik sorotan pada Cristiano Ronaldo, sebenarnya ada kekhawatiran mendalam: tim asuhan Roberto Martinez tampak kehilangan jiwa ofensifnya, meski menguasai lapangan dengan dominasi mutlak.

Dalam laga pembuka melawan Republik Demokratik Kongo, Portugal mencatat penguasaan bola tertinggi dalam sejarah partisipasinya di putaran final Piala Dunia: 75,4 persen. Akurasi umpan mencapai 92,5 persen—angka yang seharusnya menjamin kemenangan meyakinkan. Nyatanya, mereka hanya melepaskan tujuh tembakan ke gawang, sementara lawan yang dianggap underdog justru mencatat delapan upaya. Ini adalah pertama kalinya sejak 1966 bahwa tim yang menguasai lebih dari 70 persen bola justru kalah dalam jumlah tembakan.

Gol tunggal Joao Neves di menit keenam menjadi satu-satunya tembakan tepat sasaran yang berhasil. Sementara Kongo, dengan hanya 24,6 persen penguasaan bola, mampu menciptakan dua peluang akurat—dan bahkan unggul dalam expected goals (xG): 0,87 berbanding 0,65 milik Portugal. Artinya, meski menguasai bola, tim Selecao gagal menciptakan peluang berkualitas.

Ronaldo, yang bermain di lini depan sebagai kapten, menjadi simbol kegagalan ini. Dari tiga upaya tembakannya, tak satu pun menghantam jaring. Angka xG-nya hanya 0,46—jauh di bawah Yoane Wissa, striker Kongo yang mencetak satu gol dari dua tembakan dengan xG 0,82. Dalam statistik yang mengukur efisiensi, Ronaldo kalah bahkan dari pemain yang baru debut di Piala Dunia.

Sementara itu, Lionel Messi—yang kini menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang masa Piala Dunia dengan 18 gol—terus menunjukkan kejeniusan taktis dan ketajaman klinis. Dua pertandingan di Piala Dunia 2026, lima gol dicetaknya. Argentina, dengan sistem yang terstruktur dan saling mengisi, telah melangkah ke babak 32 besar. Portugal? Masih terjebak dalam paradoks: dominasi tanpa efek, kontrol tanpa konversi.

Ini bukan soal usia Ronaldo—yang masih bermain di level tertinggi—tapi soal sistem. Tim Portugal tampak kehilangan keseimbangan. Pemain tengah terlalu banyak bermain aman, sayap tak lagi mengancam, dan lini depan—meski diisi legenda—tak lagi menjadi ujung tombak yang menakutkan. Kekalahan dari Kongo bukan kejutan kecil; itu adalah peringatan keras bahwa kejayaan masa lalu tidak bisa diandalkan tanpa kehadiran taktis yang tajam.

Melawan Uzbekistan, Portugal tidak bisa lagi bermain dengan gaya “kendali bola untuk menghibur”. Mereka butuh keganasan, bukan hanya kontrol. Mereka butuh Ronaldo yang menyerang, bukan hanya berdiri menunggu umpan. Dan mereka butuh tim yang berpikir seperti juara—bukan seperti tim yang hanya mengandalkan nama besar.

Jika tidak berubah, mimpi Portugal untuk meraih gelar kedua akan berakhir bukan karena kekalahan, tapi karena ketidakmampuan untuk mengubah dominasi menjadi kemenangan.

Previous articleTrump Tuntut Aset Iran Dipakai Beli Makanan AS
Next articleWarga Jakarta Berdemo Dukung MBG, Ada yang Dapat Uang Saku
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik