Sumbawanews.com,- Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) secara resmi menyatakan dukungannya terhadap kelanjutan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah, namun menekankan perlunya perbaikan mendalam dalam mekanisme penyaluran dan pengelolaan anggaran. Dukungan ini diungkapkan dalam Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2026 di Kediri, Jawa Timur, sebagai bentuk apresiasi terhadap tujuan mulia program yang menyentuh kesejahteraan anak-anak dan penguatan ekosistem pesantren.
Sekretaris Steering Committee Munas dan Konbes NU 2026, Muhammad Nuh, menjelaskan bahwa MBG dinilai tidak hanya meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia, tetapi juga menjadi pendorong ekonomi lokal, terutama di sekitar pesantren. “Dari tujuan yang sangat mulia itu, kami memberikan apresiasi terhadap keberlangsungan MBG,” ujar Nuh, Senin (22/6).
Namun, PBNU tidak hanya bersikap mendukung tanpa syarat. Organisasi keagamaan terbesar di Indonesia ini menyoroti pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam pelaksanaan program yang melibatkan anggaran besar dan menjangkau jutaan penerima manfaat. “Kita tidak boleh menutup mata terhadap pentingnya perbaikan mekanisme penyaluran, ketepatan sasaran, dan tata kelola anggaran,” tegas Nuh.
Menurutnya, keberhasilan MBG tergantung pada seberapa tepat bantuan sampai ke tangan yang berhak—terutama anak-anak santri dan keluarga kurang mampu di pedesaan. PBNU mendorong pemerintah untuk menyempurnakan sistem distribusi, memperkuat pengawasan internal, serta melibatkan lembaga lokal seperti pesantren dan organisasi masyarakat dalam proses monitoring.
Rekomendasi ini akan disampaikan secara resmi kepada pemerintah sebagai masukan strategis menjelang penyusunan anggaran dan kebijakan lanjutan. Dengan dukungan PBNU, program yang menjadi andalan Presiden Prabowo Subianto ini berpotensi menjadi model pemberdayaan berbasis komunitas yang berkelanjutan—bukan sekadar bantuan, tapi investasi jangka panjang pada sumber daya manusia Indonesia.
PBNU berharap MBG tidak hanya bertahan, tetapi berkembang menjadi program yang lebih adil, efisien, dan berdampak luas—terutama bagi generasi muda yang tumbuh di lingkungan pesantren, tempat nilai-nilai keagamaan dan kemandirian saling bersinergi.















