Home Berita Nasional Di Puncak Kerinci, Hasto: Keberanian Lahirkan Kebenaran

Di Puncak Kerinci, Hasto: Keberanian Lahirkan Kebenaran

Sumbawanews.com,- Di ketinggian 3.805 meter, di puncak Gunung Kerinci yang menjulang di Jambi, Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengibarkan bendera partai di tengah kabut pagi yang menyelimuti puncak gunung api tertinggi di Indonesia. Di sana, di antara angin dingin dan keheningan alam, ia mengucapkan sebuah prinsip yang menjadi jiwa perjuangan PDI Perjuangan: “Keberanian akan lahir kebenaran.”

Pernyataan itu bukan sekadar retorika. Hasto mengingatkan bahwa setiap langkah kader PDIP harus berakar pada keyakinan yang tak goyah—keyakinan yang diajarkan langsung oleh Ketua Umum Megawati Soekarnoputri. “Dari keyakinan muncul keberanian, dari keberanian muncul kebenaran, dan dari kebenaran lahirlah kesabaran. Dan pada akhirnya, kebenaran akan menang,” ujarnya, merujuk pada filosofi Satyam Eva Jayate, yang menjadi semboyan perjuangan Bung Karno.

Momen mendaki Gunung Kerinci ini sengaja dipilih sebagai simbol perjalanan spiritual dan politik. Bagi Hasto, puncak gunung bukan sekadar titik geografis, melainkan metafora atas perjuangan yang harus ditempuh dengan keteguhan, tanpa kompromi terhadap nilai-nilai Pancasila. “Bendera PDIP berkibar di sini bukan hanya sebagai simbol partai, tapi sebagai nyala api perjuangan Bung Karno dan Ibu Megawati yang tak pernah padam,” katanya.

Ia menekankan bahwa politik sejati bukanlah alat kekuasaan, melainkan jalan pengabdian. Politik yang dijalankan PDIP, menurutnya, harus berpijak pada lima pilar: ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial. “Ini bukan sekadar doktrin, tapi pedoman hidup yang harus diwujudkan dalam kerja nyata—mencintai bumi, merawat pertiwi, dan berpihak pada rakyat marhaen yang selama ini terpinggirkan.”

Hasto juga menegaskan bahwa semangat ini bukan hanya untuk diingat di Bulan Bung Karno, tapi menjadi kompas setiap hari. Ia mengajak seluruh kader untuk tidak takut menghadapi tekanan, kritik, atau bahkan fitnah. “Ketika kebenaran diucapkan dengan berani, ia tak akan pernah mati. Bahkan jika harus ditempuh di puncak gunung, di tengah hujan, atau di ruang sidang yang penuh kepentingan.”

Dengan latar belakang pemandangan alam yang megah dan sunyi, pesan Hasto terdengar lebih dalam—bukan sekadar pidato politik, tapi panggilan moral. Di atas sana, di udara yang tipis, ia mengingatkan: perjuangan bukan soal jumlah, tapi soal keteguhan. Dan kebenaran, sejatinya, lahir bukan dari suara yang paling keras, tapi dari hati yang paling berani.

Previous articleKejari Terima 714 Barang Bukti Kasus Ijazah Jokowi
Next articlePersib Bandung Buru Pemain Asing Gantikan Barba
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik