Home Berita Internasional Maestro The Fed Alan Greenspan Meninggal di Usia 100 Tahun

Maestro The Fed Alan Greenspan Meninggal di Usia 100 Tahun

Sumbawanews.com,- Jakarta—Alan Greenspan, sosok yang pernah dijuluki “Maestro The Fed” dan menjadi arsitek kebijakan moneter Amerika Serikat selama hampir dua dekade, meninggal dunia pada usia 100 tahun. Kematian sang ekonom legendaris itu diumumkan oleh istrinya, jurnalis terkemuka Andrea Mitchell, yang menyebut penyebabnya komplikasi penyakit Parkinson.

Greenspan, yang menjabat sebagai Ketua Federal Reserve dari 1987 hingga 2006, bukan sekadar pejabat bank sentral biasa. Ia adalah figur yang keputusannya mampu mengguncang pasar global, mengubah arah mata uang, dan bahkan memengaruhi kebijakan presiden dari dua partai berbeda. Di puncak karirnya, ia dianggap sebagai penyelamat ekonomi—dari krisis Black Monday 1987 hingga guncangan pasca-11 September 2001. Majalah Time bahkan menempatkannya dalam kelompok “Komite untuk Menyelamatkan Dunia,” sementara jurnalis Bob Woodward menyebutnya “Maestro” karena kemampuannya mengendalikan pasar tanpa perlu berbicara keras.

Namun, warisan Greenspan tak pernah sederhana. Di balik pujian atas stabilitas ekonomi era 1990-an, tersembunyi jejak yang kemudian menjadi bahan kritik tajam. Setelah ia pensiun, gelembung perumahan AS meledak, memicu krisis keuangan global 2008 yang menelan ratusan miliar dolar kerugian dan jutaan pekerjaan. Banyak ekonom menuding kebijakan suku bunga rendah yang dipertahankan Greenspan terlalu lama sebagai pemicu spekulasi liar di sektor properti. Kritik itu semakin mengeras ketika ia sendiri, dalam uji coba Kongres pada 2008, mengakui bahwa ia “terkejut” oleh kegagalan model ekonomi yang selama ini ia percayai.

“Dia adalah sosok raksasa yang membantu membentuk ekonomi AS selama beberapa dekade, tetapi selalu jujur dalam mengakui kesalahannya,” kata Mitchell, yang menekankan integritas Greenspan meski di tengah kontroversi.

Di bawah kepemimpinannya, Federal Reserve menjadi pusat kekuatan ekonomi dunia. Ucapan Greenspan di depan Kongres bisa menaikkan atau menurunkan indeks saham dalam hitungan menit. Ia membangun reputasi sebagai “manusia yang bisa membaca pikiran pasar”—kemampuan yang membuatnya dihormati, bahkan ditakuti.

Namun, ketika sistem keuangan global runtuh, dunia pun bertanya: apakah Maestro itu benar-benar penyelamat, atau justru arsitek kehancuran?

Jawabannya tak lagi bisa diberikan oleh Greenspan sendiri. Tapi dalam kematian, ia meninggalkan warisan yang tak terhindarkan: sebuah pelajaran abadi bahwa kebijakan ekonomi yang terlalu percaya pada pasar bebas, tanpa pengawasan memadai, bisa menjadi racun yang perlahan mematikan.

Ia wafat di rumahnya di Washington D.C., meninggalkan istri, tiga anak, dan sebuah dunia yang masih terus memperdebatkan jejaknya.

Previous article76 Remaja Terpilih Jadi Paskibraka 2026
Next articleArgentina vs Austria: Laga Penentu Messi dan Rekor Sejarah
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik