Sumbawanews.com,- Roma – Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menanggapi tudingan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan tajam dan tanpa kompromi, menegaskan bahwa popularitasnya bukanlah urusan pribadi sang presiden. Dalam pernyataan resmi di Instagram, Meloni menolak habis klaim Trump bahwa dirinya “memohon” untuk berfoto bersamanya dan mengalami penurunan popularitas di Italia.
“Popularitas saya bukan urusan Anda,” tegas Meloni. “Saya sarankan Anda fokus pada popularitas Anda sendiri.”
Pernyataan itu muncul setelah Trump dalam wawancara dengan stasiun televisi Italia La7 mengklaim bahwa Meloni “memohon” untuk berfoto dengannya saat bertemu di KTT G7 pekan lalu. “Dia memohon kepada saya untuk berfoto dengannya; saya merasa kasihan kepadanya,” ujar Trump, yang kemudian memperluas kritiknya dengan menuduh Meloni menghalangi operasi militer AS di Iran dan melemahkan upaya mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir.
Meloni membantah semua tuduhan itu. Ia menegaskan bahwa penggunaan pangkalan militer Italia oleh AS diatur oleh perjanjian bilateral yang selalu dihormati pemerintahnya. “Perjanjian itu tidak dapat dilanggar selama saya masih menjabat sebagai perdana menteri,” tegasnya.
Lebih jauh, Meloni menyatakan kekecewaannya atas sikap Trump terhadap sekutu tradisional. “Saya tidak tahu mengapa presiden AS bersikap seperti ini terhadap sekutu-sekutunya,” katanya. “Tapi ada satu hal yang perlu ia ingat: saya maupun Italia tidak pernah memohon kepada siapa pun.”
Ketegangan ini memperdalam retakan hubungan antara Roma dan Washington, yang sebelumnya dikenal cukup dekat. Meloni bahkan menjadi satu-satunya pemimpin Eropa yang hadir dalam pelantikan Trump pada Januari 2025. Namun, hubungan itu mulai memburuk sejak Trump menyerang Paus Leo XIV di media sosial, sebuah komentar yang langsung ditolak tegas oleh Meloni sebagai “tidak dapat diterima.”
Krisis ini berdampak langsung pada diplomasi: Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani membatalkan kunjungan kerja ke AS yang dijadwalkan minggu depan, sebuah sinyal kuat bahwa Italia tidak akan mengorbankan kedaulatannya demi hubungan yang dipaksakan.
Sementara itu, dukungan terhadap Meloni terus mengalir dari berbagai kalangan politik di Italia. Banyak yang melihat responsnya sebagai simbol ketegasan seorang pemimpin yang tidak mau tunduk pada tekanan atau pelecehan verbal dari kekuatan asing, sekalipun itu berasal dari negara sekutu terbesar.
Dalam dunia politik yang semakin dipenuhi retorika provokatif, pernyataan Meloni bukan sekadar jawaban—ia menjadi peringatan: bahwa hubungan antar negara harus dibangun di atas saling menghormati, bukan di atas klaim yang tidak berdasar dan upaya merendahkan.















