Sumbawanews.com,- Peneliti BRIN, Thomas Djamaluddin, berhasil mengabadikan fenomena langka jejak bintang (star trail) di langit malam Observatorium Nasional Timau, Nusa Tenggara Timur. Dalam pemotretan selama sepuluh jam — dari Kamis malam, 18 Juni 2026 pukul 19.00 WITA hingga Jumat dini hari, 19 Juni pukul 05.00 WITA — ia merekam pola cahaya bintang yang membentuk lingkaran konsentris mengelilingi kutub selatan langit, dengan kubah observatorium sebagai latar depannya.
Meski kamera aktif merekam hanya sekitar tiga jam, hasilnya memperlihatkan jejak cahaya yang halus dan simetris, seolah-olah bintang-bintang berputar mengelilingi satu titik di angkasa. Ini bukan ilusi, melainkan bukti visual langsung dari rotasi Bumi pada porosnya — fenomena yang sering kita alami setiap hari, tapi jarang disadari.
“Banyak orang melihat matahari terbit dan terbenam, tapi tidak menyadari bahwa itu adalah akibat dari putaran Bumi,” ujar Thomas, Koordinator Kelompok Riset Astronomi dan Observatorium di Pusat Riset Antariksa BRIN. “Jejak bintang adalah cara alam menunjukkan gerak kita sendiri — diam di tempat, tapi sebenarnya berputar cepat melalui ruang angkasa.”
Pemotretan ini membutuhkan kondisi sempurna: langit benar-benar cerah tanpa awan, tanpa polusi cahaya, dan tanpa gangguan satelit. Timau menjadi salah satu lokasi paling ideal di Indonesia karena kegelapan malamnya yang ekstrem dan udaranya yang jernih — faktor yang membuat observatorium ini dipilih sebagai pusat astronomi nasional.
Untuk menghindari jejak cahaya satelit seperti Starlink yang kini semakin banyak menghiasi orbit Bumi, Thomas memilih waktu tepat: setelah gelap total hingga sebelum fajar menyingsing. “Saat senja atau menjelang pagi, satelit masih memantulkan cahaya matahari. Itu bisa merusak pola jejak bintang yang kita inginkan,” jelasnya.
Hasil fotografi ini bukan sekadar karya seni astronomi. Ia adalah dokumentasi ilmiah yang menghubungkan masyarakat dengan prinsip dasar fisika langit — gerak rotasi Bumi — lewat keindahan visual yang sulit diabaikan. Di tengah era digital yang sering mengalihkan pandangan ke layar, foto ini mengingatkan kita bahwa di atas kepala kita, alam terus bergerak dengan ketenangan yang luar biasa.
Dengan latar belakang kubah observatorium yang megah, jejak bintang di Timau bukan hanya bukti kecanggihan teknologi pengamatan, tapi juga simbol harapan: bahwa di ujung timur Nusantara, manusia Indonesia masih mampu menangkap keajaiban kosmos — dan mengabadikannya untuk dunia.















