Sumbawanews.com,- Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menuding Israel sebagai aktor utama yang berupaya menggagalkan kemajuan negosiasi damai antara Teheran dan Washington. Dalam pernyataan resmi di televisi nasional, Araghchi menegaskan bahwa rezim Zionis secara sistematis mencari dalih untuk menghancurkan kesepakatan kerangka yang hampir rampung, demi mempertahankan status quo konflik di kawasan.
Sebelumnya, pada 28 Februari 2026, AS dan Israel melancarkan serangan udara masif terhadap sejumlah target di Iran, menewaskan lebih dari 3.000 orang. Serangan itu dianggap sebagai upaya memperlemah posisi tawar Teheran sebelum perundingan intensif dimulai. Namun, pada 7 April, kedua pihak secara resmi mengumumkan gencatan senjata—sebuah langkah yang membuka jalan bagi pembahasan rancangan memorandum kesepahaman berisi 14 poin.
Menurut sumber dekat tim perunding Iran yang dikutip Kantor Berita Mehr, rancangan itu mencakup komitmen permanen untuk menghentikan semua bentuk permusuhan, termasuk di Lebanon, serta penghormatan penuh terhadap kedaulatan Iran oleh Amerika Serikat. Di bidang ekonomi, AS diwajibkan mencabut blokade laut terhadap Iran dalam waktu 30 hari, membuka kembali Selat Hormuz sesuai pengaturan Teheran, serta menghentikan sanksi terhadap ekspor minyak, sektor petrokimia, dan akses ke sistem keuangan internasional.
Yang paling menonjol, rancangan itu mengamanatkan penyusunan rencana rekonstruksi nasional Iran senilai minimal 300 miliar dolar AS, yang akan didanai oleh AS dan sekutunya. Selain itu, kedua negara sepakat membentuk mekanisme negosiasi selama 60 hari untuk menuntaskan isu nuklir dan pencabutan sanksi secara komprehensif oleh AS, PBB, dan negara-negara mitra.
Meski Iran menyatakan “bagian utama” kesepakatan telah disepakati, Araghchi menekankan bahwa upaya sabotase dari luar—terutama dari Israel—terus mengganggu prosesnya. Ia menyoroti bahwa serangan terisolasi dan tekanan diplomasi dari pihak-pihak yang tidak ingin perdamaian terwujud justru semakin intens seiring kemajuan perundingan.
Dalam konteks ini, Israel dianggap memiliki kepentingan strategis untuk menjaga ketegangan antara Iran dan AS, karena stabilitas kawasan akan mengurangi pengaruhnya di Timur Tengah. Sejumlah media Barat juga melaporkan kekecewaan di kalangan warga Israel atas kegagalan Netanyahu dalam mempertahankan narasi “kemenangan total” setelah serangan Februari lalu.
Dengan gencatan senjata yang masih berlaku dan negosiasi yang terus berjalan, dunia kini menanti apakah tekanan eksternal akan mampu menghentikan momentum damai yang mulai terbentuk—atau justru menjadi titik balik yang mengubah peta geopolitik Timur Tengah selamanya.

















