Sumbawanews.com,- Pasukan Amerika Serikat menembak jatuh sejumlah drone serang milik Iran di kawasan Selat Hormuz, meski kedua negara dikabarkan hampir menyelesaikan kesepakatan perdamaian setelah berbulan-bulan saling serang. Insiden ini terjadi pada Sabtu (13/6), tepat ketika diplomasi sedang mencapai titik paling krusial.
Komando Militer AS di Timur Tengah (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa drone-drone Iran diluncurkan dengan tujuan menyerang kapal-kapal dagang yang melintas di jalur maritim strategis itu. Menanggapi ancaman itu, pasukan AS merespons dengan cepat—semua drone berhasil ditembak jatuh dalam hitungan jam, tanpa ada kerusakan pada kapal sipil atau gangguan signifikan terhadap arus perdagangan internasional.
“Koridor perdagangan tetap terbuka,” tegas CENTCOM dalam pernyataan resminya, menekankan bahwa respons militer dilakukan semata-mata untuk melindungi keamanan maritim, bukan untuk memperburuk ketegangan.
Insiden ini berlangsung tak lama setelah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa AS dan Iran hampir mencapai kesepakatan damai “yang sangat kuat,” dan bahwa nota kesepahaman akan segera ditandatangani dalam beberapa hari mendatang. Trump menyebut kesepakatan itu akan mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh serta penghentian pengembangan program nuklir Iran.
Namun, Teheran memberikan nuansa berbeda. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menegaskan bahwa perundingan masih berlangsung di sebagian isu kunci, dan belum mencapai kesepakatan menyeluruh. “Kami berada di tahap akhir musyawarah internal,” ujar Baghaei, mengisyaratkan bahwa masih ada perbedaan pendapat yang belum teratasi.
Pertikaian ini bukan sekadar konflik militer, tapi juga ujian bagi kepercayaan diplomatik. Meski Trump menjanjikan pencairan aset Iran senilai US$24 miliar (Rp428 triliun) yang selama ini dibekukan, dan Iran tampak terbuka untuk menghentikan pengayaan uranium, tindakan militer terbaru menunjukkan betapa rapuhnya genggaman perdamaian di tengah kecurigaan yang mendalam.
Pertanyaannya kini: apakah serangan drone ini merupakan upaya kelompok militer Iran yang bertindak di luar kendali pemerintah, atau justru sinyal bahwa Teheran belum sepenuhnya siap melepaskan senjata sebagai alat tekanan? Sementara itu, Washington bersikeras bahwa setiap ancaman terhadap kebebasan navigasi akan dijawab dengan kekuatan militer—bahkan jika perundingan damai sedang berjalan.
Dalam dunia geopolitik yang penuh nuansa, perdamaian bukanlah titik akhir, tapi proses yang terus diuji oleh tindakan di balik layar. Dan di Selat Hormuz, di mana setiap kapal dan drone bisa menjadi korek api, ketegangan tetap menggantung—meski kedua belah pihak sudah berdiri di ambang pintu damai.















