Sumbawanews.com,- Jakarta — Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan kesepakatan bulat untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir, dalam pembicaraan intensif yang berlangsung menjelang puncak ketegangan regional.
Dalam pernyataan resmi pada Jumat (12/6), Netanyahu menegaskan, “Selama saya memimpin Israel, Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.” Ia menambahkan bahwa ia dan Trump memiliki “kesepakatan penuh” dalam strategi menghadapi ancaman nuklir Teheran—sebuah posisi yang menjadi inti dari koalisi keamanan AS-Israel selama beberapa bulan terakhir.
Kesepakatan ini muncul di tengah eskalasi militer yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sejak 28 Februari, serangan udara gabungan AS dan Israel telah menghancurkan sejumlah fasilitas nuklir dan militer Iran, termasuk markas strategis yang diduga terkait program senjata nuklir. Dampaknya mematikan: Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah pejabat tinggi pertahanan tewas dalam serangan tersebut, sementara ratusan warga sipil, termasuk anak-anak, menjadi korban.
Iran tidak tinggal diam. Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) meluncurkan serangan balasan terhadap pangkalan militer AS di Timur Tengah dan menembakkan puluhan rudal ke wilayah Israel. Sebagai respons, Teheran juga menutup sementara Selat Hormuz—jalur strategis pelayaran global yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia—mengancam rantai pasok energi dunia.
Meski kedua belah pihak kini tengah berusaha meredakan ketegangan melalui negosiasi, perbedaan mendasar tetap tak terjembatani. Washington menuntut pelucutan total program uranium Iran, sementara Teheran bersikeras bahwa haknya untuk memperkaya uranium demi tujuan energi sipil adalah non-negotiable dan sesuai hukum internasional.
Netanyahu, yang kembali memimpin pemerintahan Israel setelah kembali ke kursi perdana menteri, menekankan bahwa kesepakatan dengan Trump bukan sekadar diplomasi—tetapi komitmen strategis yang didukung oleh kekuatan militer dan intelijen bersama. “Ini bukan soal pilihan. Ini soal kelangsungan hidup,” ujarnya.
Sementara itu, Trump, yang kembali menjabat sebagai presiden AS setelah kemenangan elektoral tahun lalu, menegaskan bahwa “tidak ada ruang untuk kompromi” terhadap ancaman nuklir Iran. Ia menyebut program nuklir Teheran sebagai “ancaman paling mendesak bagi keamanan global,” dan menjanjikan “tindakan tegas” jika diplomasi gagal.
Ketegangan ini memperdalam isolasi Iran di panggung internasional. Banyak negara, termasuk sekutu tradisional Barat, mulai mengecam serangan Israel atas wilayah sipil, sementara Uni Eropa dan PBB mendesak gencatan senjata segera. Namun, AS dan Israel menolak tekanan itu, dengan alasan bahwa “waktu berjalan untuk Iran.”
Dengan kedua pemimpin yang sama-sama memegang kendali penuh atas kebijakan luar negeri negaranya—Netanyahu sebagai perdana menteri yang berkuasa penuh, dan Trump sebagai presiden yang kembali memimpin dengan agenda “America First”—kemungkinan besar konflik ini akan terus berlangsung dalam bentuk yang lebih tersembunyi, namun jauh lebih berbahaya: perang proxy, serangan siber, dan sabotase infrastruktur.
Dunia menunggu. Karena di balik pernyataan diplomatik yang tegas, satu hal jelas: kedua negara tidak lagi hanya berbicara tentang mencegah Iran punya nuklir. Mereka sedang mempersiapkan diri untuk memastikan Iran tidak akan pernah bisa memilikinya—dengan cara apa pun.

















