Sumbawanews.com,- Jakarta – Seekor gorila jantan bernama Kiyomasa menjadi sorotan global setelah rekaman videonya menunjukkan ekspresi murung dan termenung usai bertengkar dengan pasangannya di Kebun Binatang Higashiyama, Nagoya, Jepang.
Dalam video berdurasi satu menit yang viral di media sosial, Kiyomasa terlihat duduk diam di atas batu, pandangan kosong, tangan menopang dagu—gerakan yang sangat menyerupai manusia yang sedang merenungkan konflik pribadi. Rekaman itu diambil oleh pengunjung dan diunggah oleh akun Instagram @nishioshoichi, yang kemudian menyebar luas dengan jutaan tayangan.
Perilaku Kiyomasa tidak biasa. Biasanya, gorila jantan setelah bertengkar akan menunjukkan dominasi fisik atau segera kembali berinteraksi sosial. Namun, kali ini, ia memilih isolasi—diam, tanpa gerak signifikan, seolah menanggung beban emosional. Para pengamat primata di kebun binatang menyebut ini sebagai bentuk respons emosional yang langka, bahkan jarang terdokumentasi dalam spesies ini.
Netizen di seluruh dunia langsung merespons dengan empati. Banyak yang mengaitkan ekspresi Kiyomasa dengan situasi manusia: “Dia kayak cowok yang baru ribut sama pacar terus ngerenung di kamar,” tulis salah satu komentator. “Ini bukan cuma gorila. Ini cerita cinta yang gagal, dalam bahasa tubuh primata.”
Para peneliti dari Universitas Kyoto yang memantau perilaku Kiyomasa mengatakan, meski tidak bisa disamakan secara langsung dengan emosi manusia, gorila memiliki sistem sosial yang kompleks dan mampu menunjukkan tanda-tanda stres, kekecewaan, atau penyesalan setelah konflik sosial. “Mereka mengenal hubungan, kehilangan, dan ketegangan emosional. Kiyomasa mungkin sedang memproses kegagalan komunikasi dengan pasangannya,” ujar Dr. Aiko Tanaka, primatolog yang terlibat dalam studi jangka panjang terhadap kelompok gorila di kebun binatang itu.
Kiyomasa, yang berusia 28 tahun, adalah salah satu gorila jantan dominan dalam kelompoknya. Ia diketahui memiliki hubungan dekat dengan dua betina, termasuk salah satu yang menjadi lawan bertengkar dalam insiden itu. Meski pertengkaran itu tidak melibatkan kekerasan fisik, interaksi verbal dan gerakan tubuh agresif—seperti menepuk dada, menatap tajam, dan menghindari kontak—terlihat jelas dalam video.
Kebun binatang Higashiyama menyatakan bahwa kondisi Kiyomasa tetap stabil secara fisik. Ia masih makan dan bergerak normal, hanya saja lebih sering menyendiri dalam beberapa jam setelah insiden. Petugas kebun binatang memutuskan untuk tidak mengganggu, memberinya ruang untuk “memulihkan diri secara alami.”
Dalam dunia primata, emosi bukanlah hal yang hanya dimiliki manusia. Kiyomasa, dengan tatapan galau dan tubuh yang membisu, menjadi simbol tak terduga: bahwa cinta, konflik, dan kerinduan—bahkan dalam bentuk paling dasar—bisa jadi bagian dari kehidupan makhluk yang sangat mirip kita.

















