Sumbawanews.com,- Pasukan penjaga perdamaian PBB asal Malaysia mengalami luka ringan akibat serangan di Lebanon selatan, Kamis (11/6/2026). Dua personel terluka dan dua kendaraan mereka rusak saat konvoi logistik UNIFIL melintas di Desa Haris. Menurut juru bicara PBB, Stephane Dujarric, kedua prajurit telah menerima perawatan medis dan kondisinya stabil. UNIFIL sedang menyelidiki penyebab insiden tersebut, sambil menegaskan bahwa serangan terhadap pasukan perdamaian adalah pelanggaran serius terhadap hukum internasional.
Insiden ini terjadi di tengah memanasnya ketegangan di perbatasan Lebanon-Israel. Sejak Maret lalu, Hizbullah terus melancarkan serangan roket dan drone ke wilayah Israel, yang direspons dengan serangan udara dan operasi darat oleh militer Israel di selatan Lebanon. Meski sempat mencapai kesepakatan gencatan senjata pada April melalui mediasi AS, kekerasan hampir setiap hari masih terjadi, membuat zona penjagaan UNIFIL menjadi medan berbahaya.
Malaysia merupakan salah satu kontributor utama pasukan UNIFIL, dengan ratusan tentara yang bertugas di wilayah strategis selatan Lebanon sejak dekade lalu. Kehadiran mereka dianggap krusial dalam menjaga stabilitas dan memantau gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah. Namun, semakin seringnya serangan terhadap konvoi dan pos-pos pasukan perdamaian menimbulkan kekhawatiran mendalam di tingkat PBB.
Dujarric menekankan bahwa semua pihak wajib menghormati status netral dan perlindungan yang dijamin hukum internasional bagi pasukan penjaga perdamaian. “Serangan terhadap UNIFIL bukan hanya ancaman terhadap personel kami, tetapi juga terhadap upaya global untuk menjaga perdamaian,” ujarnya.
Sementara itu, pemerintah Malaysia menyatakan sedang memantau perkembangan insiden secara dekat dan berkoordinasi dengan PBB untuk memastikan keselamatan seluruh prajuritnya. Kementerian Pertahanan menegaskan komitmen Indonesia untuk terus mendukung misi perdamaian PBB, meski situasi di lapangan semakin kompleks dan berisiko tinggi.
Dengan konflik yang tak kunjung reda, misi UNIFIL kini berada di titik kritis—di satu sisi berupaya menjaga gencatan senjata, di sisi lain harus bertahan dalam lingkungan yang semakin berbahaya. Bagi tentara Malaysia yang bertugas di garis depan, setiap perjalanan konvoi bisa jadi perjalanan terakhir.

















