Home Berita Internasional AS dan Iran Terlibat Serangan Balas-Membalas

AS dan Iran Terlibat Serangan Balas-Membalas

Sumbawanews.com,- Militer Amerika Serikat melancarkan serangan udara intensif terhadap sejumlah target di Iran pada Rabu (11/6), sebagai respons atas serangan balasan Teheran terhadap pangkalan militer AS di Timur Tengah. Serangan yang dipusatkan di wilayah selatan Iran—termasuk Bandar Abbas, Sirik, dan Minab—terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden Donald Trump menegaskan bahwa Iran akan “membayar harga mahal” atas kegagalan negosiasi damai.

Menurut Komando Pusat AS (CENTCOM), serangan ini merupakan bagian dari upaya membalas agresi Iran yang terus berlanjut, termasuk serangan rudal terhadap Bahrain, Kuwait, dan Yordania—negara-negara yang menjadi basis operasional pasukan AS. Insiden ini menjadi kali ketiga dalam seminggu kedua belah pihak saling menyerang, menguji gencatan senjata yang sebelumnya berlangsung selama dua bulan.

Ketegangan memuncak setelah sebuah helikopter Angkatan Darat AS jatuh di dekat Selat Hormuz. Trump menyalahkan Iran atas insiden itu, meski belum ada bukti independen yang mengonfirmasi klaim tersebut. Ia juga mengklaim bahwa militer AS telah menjalankan “misi rahasia” selama sebulan terakhir untuk mengamankan rute pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, dengan menghancurkan radar Iran dan memastikan lebih dari 100 juta barel minyak berhasil melewati jalur kritis itu tanpa gangguan. Namun, CENTCOM tidak memberikan rincian teknis tentang peran militer dalam operasi tersebut, dan angka yang disebut Trump belum diverifikasi oleh sumber eksternal.

Di tengah eskalasi militer, Iran menegaskan sikapnya melalui Duta Besar Amir Saeid Iravani di PBB: “Iran tidak pernah bernegosiasi di bawah ancaman, dan tidak akan pernah tunduk pada tekanan.” Pernyataan itu menyiratkan bahwa Teheran menolak segala bentuk diplomasi yang dipaksakan, meski kedua negara tampak masih membuka ruang untuk penyelesaian politik—dengan masing-masing berusaha mempertahankan legitimasi di dalam negeri.

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terus mendorong agenda yang memperumit proses perdamaian: runtuhnya pemerintahan teokratis Iran, penghancuran program nuklir, dan pemusnahan Hizbullah di Lebanon. Serangan balasan antara Iran dan Israel pada Senin (8/6) semakin memperdalam kekhawatiran bahwa konflik ini bisa meluas menjadi perang regional.

Dampak ekonomi global pun terasa. Harga minyak mentah dunia melonjak di atas US$93 per barel—naik lebih dari 25 persen sejak perang dimulai pada 28 Februari lalu. Selat Hormuz, yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia, tetap menjadi titik rawan strategis yang menentukan stabilitas energi global.

Meski serangan udara AS berlangsung intens, Iran tercatat masih mampu mempertahankan infrastruktur kunci, termasuk fasilitas militer dan jalur logistik minyak. Kedua belah pihak kini berada di persimpangan: di satu sisi, keinginan untuk menghentikan kekerasan; di sisi lain, tekanan politik domestik yang mendorong masing-masing pemimpin untuk menunjukkan kekuatan, bukan kelemahan.

Previous articleAS Jamin 100 Juta Barel Minyak Lewati Selat Hormuz
Next articleIran Bantah Klaim Trump soal Permintaan Damai
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.