Sumbawanews.com,- Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa pejabat Iran telah memohon kepadanya untuk menghentikan serangan militer, sebuah pernyataan yang langsung ditolak tegas oleh pemerintah Teheran. Dalam wawancara dengan Fox News pada Rabu (10/6), Trump menyatakan bahwa ia menerima permintaan langsung dari pihak Iran setelah AS melancarkan serangan balasan terhadap sistem pertahanan udara dan radar Iran, menyusul jatuhnya helikopter serang Apache milik AS di dekat Selat Hormuz pada Senin (8/6).
Namun, pada Kamis (11/6), seorang pejabat senior Iran menegaskan bahwa tidak pernah ada komunikasi semacam itu. “Klaim Trump bahwa pejabat Iran menghubunginya adalah kedok untuk menghindari perang langsung,” ujar pejabat tersebut kepada kantor berita resmi Iran, sebagaimana dilaporkan Reuters. Pernyataan ini menegaskan sikap Teheran yang menolak segala bentuk narasi yang menggambarkan Iran sebagai pihak yang mencari jalan damai di bawah tekanan militer.
Konflik antara AS dan Iran memanas setelah insiden jatuhnya Apache tersebut, yang disebut Washington sebagai akibat dari serangan rudal Iran. AS merespons dengan serangan presisi terhadap beberapa titik pertahanan udara dan infrastruktur radar di wilayah Selat Hormuz. Iran membalas dengan serangan drone dan rudal ke pangkalan militer AS di Yordania, Kuwait, dan Bahrain — sebuah siklus balasan yang memperdalam kekhawatiran global akan eskalasi perang terbuka.
Trump, yang sebelumnya mengancam akan “membombardir Iran habis-habisan” jika tidak menyetujui kesepakatan yang ia ajukan, kini berusaha membingkai respons AS sebagai tindakan defensif yang didorong oleh permintaan damai dari pihak lawan. Namun, di Teheran, narasi itu dianggap sebagai upaya politik untuk membenarkan agresi militer sekaligus menutupi kegagalan strategis dalam meredam ketegangan.
Pada dini hari Kamis, sejumlah warga di kota-kota Iran seperti Sirik, Kangan, Bandar Abbas, dan Minab melaporkan ledakan keras yang diduga akibat serangan udara AS. Pemerintah Iran belum mengonfirmasi kerusakan rinci, tetapi menegaskan bahwa serangan tersebut tidak akan menggoyahkan tekadnya untuk mempertahankan kedaulatan.
Sementara itu, AS membantah klaim Iran bahwa Selat Hormuz ditutup, menegaskan bahwa lalu lintas kapal dagang tetap berjalan normal. Namun, Teheran bersikeras bahwa setiap kapal yang melintas tanpa izin akan menjadi sasaran — sebuah peringatan yang semakin mengguncang stabilitas maritim global.
Dengan kedua belah pihak saling menolak narasi lawan, dan serangan balas-membalas terus berlanjut, dunia kini menanti apakah diplomasi akan muncul sebagai jalan keluar — atau apakah konflik ini akan terus memburuk menuju titik tak terkendali.

















