Sumbawanews.com,- Serangan balasan mematikan meledak di pangkalan udara Al-Azraq, Yordania, pada Rabu (10/6), ketika rudal jelajah buatan Iran menghantam hanggar tempat jet tempur siluman F-35 milik Amerika Serikat disimpan. Dalam pernyataan resmi, Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menghancurkan empat sasaran strategis, termasuk hanggar F-35 dan pusat komando militer AS di lokasi tersebut. Serangan ini merupakan respons langsung atas serangan udara AS dua hari sebelumnya yang menghancurkan menara komunikasi Iran dan dua tank air di wilayah selatan negara itu.
Menurut IRGC, operasi ini melibatkan lebih dari dua lusin target di Yordania dan Bahrain, dengan penembakan drone MQ-9 Reaper AS di ruang udara Iran sebagai bagian dari strategi balasan. Namun, militer Yordania membantah kerusakan signifikan. Pihak berwenang Yordania menyatakan berhasil menembak jatuh lima rudal yang diluncurkan dari Iran, sehingga puing-puing yang jatuh tidak menyebabkan korban jiwa maupun kerusakan material berarti.
Konflik ini memperdalam siklus balas-membalas yang memanas sejak akhir Februari, ketika AS dan Iran memulai serangkaian serangan silang di kawasan Timur Tengah. Gencatan senjata sementara yang sempat diperpanjang kini dianggap runtuh oleh Teheran, yang menuduh Washington dan sekutunya, terutama Israel, melanggar kesepakatan. Pemicu terbaru serangan AS adalah insiden di Selat Hormuz, di mana Presiden Donald Trump menuduh Iran menembak jatuh helikopter Apache AS dalam misi patroli—tuduhan yang belum dikonfirmasi secara independen.
Meski F-35—salah satu pesawat tempur paling canggih di dunia—disebut sebagai target utama, belum ada bukti visual atau konfirmasi resmi dari AS mengenai kerusakan atau kehilangan pesawat tersebut. Namun, keberhasilan Iran menembus sistem pertahanan udara Yordania yang didukung AS menjadi indikasi serius terhadap kemampuan rudal jarak jauh dan strategi asymetris Teheran dalam menghadapi keunggulan militer Barat.
Situasi kini berada di ambang kekacauan regional. Yordania, yang menjadi mitra strategis AS di Timur Tengah, terpaksa menghadapi tekanan ganda: menjaga kedaulatan wilayahnya sambil menghindari terlibat langsung dalam konflik antara dua kekuatan besar. Sementara itu, Washington bersiap menghadapi kemungkinan eskalasi lebih luas, termasuk serangan terhadap pangkalan lain di kawasan Teluk.
Dengan AS dan Iran kini terjebak dalam perang dingin yang semakin panas, dunia menanti apakah diplomasi akan mampu menghentikan spiral kekerasan—atau apakah Timur Tengah akan tergelincir lebih dalam ke dalam konflik terbuka yang tak terduga.

















