Sumbawanews.com,- Militer Amerika Serikat melancarkan serangan udara terhadap target di Pulau Qeshm dan kota Sirik di Selat Hormuz, pada Selasa (9/6), sebagai respons terhadap jatuhnya salah satu helikopter tempur AH-64E Apache miliknya pada Senin (8/6). Presiden Donald Trump menuduh Iran bertanggung jawab atas insiden itu, menyatakan bahwa helikopter tersebut ditembak jatuh oleh drone serang satu arah buatan Teheran.
Dalam wawancara eksklusif dengan ABC News, Trump menegaskan bahwa respons AS akan “sangat kuat dan sangat dahsyat.” Serangan balasan yang diluncurkan pukul 17.00 waktu setempat itu, menurut pejabat Pentagon, dirancang sebagai tindakan proporsional—tidak meluas, namun cukup menghantam untuk mengirim pesan tegas.
Kedua pilot Apache dilaporkan selamat tanpa cedera setelah jatuh di wilayah perairan strategis yang menjadi jalur utama perdagangan minyak global. Sementara itu, media pemerintah Iran mengonfirmasi adanya serangan AS di Qeshm, salah satu pulau penting di mulut Selat Hormuz, tanpa memberi komentar langsung tentang keterlibatan mereka dalam penembakan helikopter.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, tidak membantah atau mengakui keterlibatan Teheran, tetapi menekankan bahwa keberadaan pasukan asing di kawasan itu “secara inheren berisiko tinggi.” “Solusi terbaik untuk menghindari insiden lebih lanjut,” ujarnya lewat unggahan media sosial, “adalah mereka pergi.”
Insiden ini memperburuk ketegangan yang sudah memanas sejak gencatan senjata antara Iran dan Israel pada awal April lalu. Meski Trump berulang kali menyatakan optimisme bahwa kesepakatan damai dengan Iran hampir tercapai, tidak ada kemajuan nyata dalam negosiasi. Sebaliknya, eskalasi militer di kawasan Teluk semakin menguat, dengan AS yang kini enggan lagi menjadi “perisai” bagi Israel dalam serangan balasan Iran.
Pertanyaan besar kini menggantung: apakah serangan ini akan menjadi titik balik menuju perang terbuka, atau hanya sekadar peringatan yang dirancang untuk menahan eskalasi lebih jauh? Di tengah ketidakpastian, Selat Hormuz—jantung perdagangan energi dunia—kembali menjadi panggung utama ketegangan geopolitik abad ini.

















