Sumbawanews.com,- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan ancaman gelombang tinggi hingga 4 meter di sejumlah perairan Jawa Timur, dengan kondisi diperkirakan berlangsung hingga 11 Juni 2026. Fenomena ini dipicu oleh dominasi angin timuran hingga tenggara yang berkecepatan 5–25 knot, berlangsung secara konsisten selama beberapa hari dan mengganggu stabilitas laut.
Koordinator Bidang Observasi dan Informasi BMKG Maritim Tanjung Perak, Sutarno, menjelaskan bahwa perairan Jatim kini terbagi menjadi dua zona risiko. Di zona pertama, gelombang sedang dengan ketinggian 1,25–2,5 meter mengancam wilayah Perairan Masalembo, Bawean (utara dan selatan), Tuban, Lamongan, Gresik utara, serta sepanjang pesisir Madura—meliputi Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep utara, Sapudi utara, dan Kangean (utara, timur, dan selatan).
Namun, ancaman paling serius justru menghantam pesisir selatan Jawa Timur. Di kawasan Perairan Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember, hingga Banyuwangi, gelombang diperkirakan mencapai 2,5–4 meter. Kondisi ini berpotensi membahayakan aktivitas maritim, meskipun langit di atas wilayah tersebut tampak cerah berawan.
BMKG menekankan bahwa cuaca yang tampak tenang justru bisa menjadi jebakan. Para nelayan dan operator kapal laut diminta waspada terhadap ambang batas keselamatan yang telah ditetapkan. Perahu nelayan disarankan menghindari laut jika angin mencapai 15 knot dan gelombang 1,25 meter. Kapal tongkang wajib berhati-hati saat angin menyentuh 16 knot dengan gelombang 1,5 meter. Sementara itu, kapal feri penumpang dan logistik—yang kerap menghubungkan pulau-pulau kecil—harus menunda pelayaran jika kecepatan angin melebihi 21 knot dan tinggi gelombang mencapai 2,5 meter.
Sutarno menegaskan, meski tidak ada indikasi tsunami, risiko tenggelam, kapal oleng, dan kecelakaan laut tetap tinggi. Pihaknya terus memantau perkembangan dinamika atmosfer dan laut secara real-time, serta siap memberikan update jika terjadi perubahan signifikan.
Masyarakat pesisir, terutama yang bergantung pada aktivitas laut, diminta tidak mengabaikan peringatan dini. Keselamatan jiwa jauh lebih penting daripada mengejar hasil tangkapan atau jadwal penyeberangan.

















