Sumbawanews.com,- Di balik jeruji besi Lapas Kelas II A Warungkiara, Sukabumi, Jawa Barat, sebuah gerakan ketahanan pangan悄然 berjalan. Sebanyak 12 narapidana setiap hari menggarap lahan seluas 10 hektar—bukan sekadar mengisi waktu, tapi membangun masa depan. Tanaman-tanaman segar seperti kangkung, caisim, cabai rawit, terong ungu, hingga pisang dan nanas tumbuh subur di antara pagar lapas, bahkan di dinding tralis yang diubah jadi kebun gantung.
Kepala Lapas Warungkiara, Panji Pamekas, menjelaskan bahwa hasil panen tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan internal. Sebagian besar dijual ke pasar melalui pengepul, menembus jaringan distribusi hingga Pasar Induk Bandung dan Pasar Induk Tangerang. “Ini bukan sekadar pertanian, tapi program rehabilitasi,” ujarnya, sambil menunjuk petak-petak sayur yang dipelihara dengan telaten oleh warga binaan.
Setiap hasil penjualan disisihkan sebagai tabungan bagi narapidana. Uang itu menjadi bekal mereka saat kelak bebas—bukan sekadar uang receh, tapi simpanan untuk memulai hidup baru. “Mereka belajar disiplin, tanggung jawab, dan nilai kerja keras. Ini bagian dari pembinaan,” tambah Panji.
Selain pertanian, lapas ini juga mengelola ternak: 350 sapi penggemukan, 400 ayam petelur, 600 ayam kampung, 40 bebek, dan 10 kambing. Semua diurus oleh narapidana yang terpilih berdasarkan perilaku dan kedisiplinan. Program ini tak hanya mengurangi beban anggaran, tapi juga mengubah stigma: dari “tahanan” menjadi “produsen.”
Di tengah upaya pemasyarakatan yang sering terjebak dalam narasi hukuman, Warungkiara menawarkan contoh nyata: rehabilitasi bisa berbuah hasil. Bukan hanya sayuran segar yang dipanen, tapi juga harapan—yang tumbuh dari tanah, dipelihara oleh tangan yang pernah salah, dan kini dipasarkan hingga ke kota-kota besar.

















