Home Serba Serbi Tekno ChatGPT Pasang Darurat Keamanan

ChatGPT Pasang Darurat Keamanan

Sumbawanews.com,- OpenAI meluncurkan fitur keamanan darurat bernama Lockdown Mode untuk memblokir serangan siber canggih yang memanfaatkan celah pada kecerdasan buatan ChatGPT. Fitur ini muncul sebagai respons terhadap ancaman baru berupa *prompt injection*—teknik halus di mana peretas menyisipkan perintah tersembunyi dalam dokumen atau situs web yang kemudian dibaca oleh AI, memaksa ChatGPT melakukan tindakan berisiko, seperti membocorkan data sensitif atau mengakses sistem internal.

Ketika Lockdown Mode diaktifkan, ChatGPT secara otomatis memutus akses ke internet. Sistem hanya boleh mengandalkan informasi yang tersimpan sementara dalam memori cache, menonaktifkan fitur penjelajahan web, riset mendalam, pengambilan gambar langsung, hingga mode agen pintar. Namun, pengguna tetap bisa membuat gambar baru secara mandiri di dalam platform tanpa gangguan. Langkah ini dianggap sebagai langkah pencegahan radikal demi melindungi integritas data pengguna di tengah meningkatnya serangan berbasis AI.

Di tengah gelombang kekhawatiran akan keamanan AI, Google pun mengambil langkah strategis yang tak kalah mencengangkan. Perusahaan raksasa mesin pencari itu menandatangani kontrak senilai USD 920 juta—setara Rp 16,6 triliun—per bulan untuk menyewa superkomputer milik SpaceX. Kontrak berlaku mulai Oktober 2026 hingga Juni 2029, dan memberi Google akses eksklusif terhadap 110.000 unit GPU NVIDIA, CPU, serta infrastruktur komputasi mutakhir milik SpaceX. Langkah ini bertujuan memperkuat kapasitas AI Google yang kian terbebani permintaan global, sekaligus menyaingi investasi besar Anthropic yang sebelumnya menyewa seluruh kapasitas pusat data Colossus 1 milik xAI dengan nilai USD 1,25 miliar per bulan.

Sementara itu, lanskap kejahatan siber memasuki babak baru yang lebih mengancam. Kelompok ransomware bernama Silent Ransom Group dilaporkan mulai mengirim teknisi IT palsu secara fisik ke kantor korban—bukan hanya lewat jaringan, tapi dengan memasuki gedung secara langsung. Mengutip laporan Mandiant dan Google Threat Intelligence Group, modus ini bertujuan mencuri data sensitif melalui perangkat USB atau membuka akses jarak jauh ke komputer perusahaan. Fokus utama serangan adalah firma hukum, tempat data klien sangat bernilai. Charles Carmakal, CTO Mandiant, mengungkapkan bahwa taktik infiltrasi fisik ini bukan lagi teori, melainkan realitas yang sudah terjadi dalam beberapa kasus sejak tahun lalu. Ancaman kini tak lagi hanya di layar—tapi di pintu kantor Anda.

Previous articleMori Hanafi Dukung Porwada Perdana PWI NTB 2026, Optimistis PON 2028 Sukses
Next articleDesa Kawio Terisolasi, Rumah Rata Tanah Usai Gempa Filipina
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.