Sumbawanews.com,- Militer Israel melancarkan serangan udara balasan terhadap sejumlah target militer di Iran pada Senin (8/6/2026), menyusul serangan rudal besar-besaran yang dilancarkan Teheran sehari sebelumnya. Ledakan hebat terdengar di ibu kota Teheran, Isfahan, hingga Tabriz, memicu kebakaran besar di fasilitas penyimpanan minyak dan kilang strategis. Gambar-gambar dari media lokal menunjukkan asap tebal membubung ke langit malam, tanda serangan yang ditargetkan dan terkoordinasi.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengonfirmasi operasi tersebut sebagai respons langsung atas peluncuran lebih dari 180 rudal oleh Iran ke wilayah Israel pada Minggu (7/6), yang menjadi serangan rudal pertama Teheran sejak gencatan senjata awal April lalu. Korps Garda Revolusi Iran mengaku fasilitasnya menjadi sasaran rudal balistik udara, meski belum memberikan rincian korban atau kerusakan resmi.
Di tengah eskalasi yang memicu kekhawatiran global, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan telah menghubungi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Minggu malam, meminta penundaan serangan balasan. Dalam wawancara dengan *Financial Times*, Trump menyatakan bahwa Netanyahu “tidak memegang kendali” dan harus menerima setiap kesepakatan diplomatik yang ditawarkan Washington kepada Teheran.
Sementara itu, Iran memperingatkan akan mengambil langkah lebih radikal jika serangan Israel berlanjut. Seorang penasihat senior Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei mengisyaratkan kemungkinan penutupan Selat Bab al-Mandab—salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia—sebagai balasan. Ancaman ini memperdalam kekhawatiran akan meluasnya konflik ke kawasan Teluk dan memicu gangguan global terhadap pasokan energi.
Harga minyak dunia langsung merespons dengan lonjakan tajam, sementara pasar keuangan global bersiap menghadapi ketidakpastian yang lebih panjang. Upaya mediasi AS untuk meredakan ketegangan masih berlangsung, tetapi dengan kedua belah pihak saling menegaskan kemampuan militer dan tekad untuk membalas, risiko perang terbuka di Timur Tengah kini berada pada titik paling kritis dalam beberapa tahun terakhir.

















