Sumbawanews.com,- Air bersih dari pipa PAM tiba-tiba mengering di sejumlah wilayah Jakarta, memaksa ribuan warga bergantung pada jeriken berisi air beli dan sumur pribadi. Gangguan ini bermula dari pemeliharaan listrik di gardu PLN yang mematikan operasional Instalasi Pengolahan Air (IPA) Pejompongan I, pusat distribusi air untuk jutaan penduduk ibu kota.
Di Penjaringan, Jakarta Utara, Ani Asia (46), pedagang mi ayam, harus menghabiskan belasan jeriken per hari—setiap jeriken berharga Rp4.000—untuk memasak, mencuci, hingga berwudhu. “Air PAM sudah cuma keluar angin. Kalau mati total, saya harus angkat sendiri jeriken-jeriken itu dari depan rumah, beratnya bikin tangan pegal,” katanya, sambil menatap panci kuah yang tak bisa mendidih karena kekurangan air. Di tengah krisis ini, biaya hidup naik, usaha terancam, dan harapan hanya tergantung pada kecepatan perbaikan listrik di pusat kota.
Berbeda nasib di Jembatan Lima, Jakarta Barat. Anis (56), pemilik warung makan, tak panik. Ia telah membangun sumur bor sejak lima tahun lalu—sebuah investasi yang kini menjadi penyelamat. Airnya mengalir lancar, meski pipa PAM mati total. Tak hanya untuk keluarganya, sumur itu menjadi tumpuan tetangga: warga yang kehabisan air mandi menumpang mencuci, berwudhu, bahkan mengisi ember untuk kebutuhan sehari-hari. “Saya enggak ikut antre air tangki. Biarkan yang tidak punya sumur yang ambil. Saya sudah punya solusi,” ujarnya, sambil menunjuk ke arah tangki air bantuan yang berjejer di seberang jembatan, sulit dijangkau karena harus menyeberangi kali.
Di Krendang Tengah, Jakarta Barat, keresahan hampir tak terasa. Rusiah (52), Ketua RT, mengatakan mayoritas warga sudah mandiri: sumur air tanah menjadi sumber utama mandi, cuci, dan kebutuhan rumah tangga. Air PAM hanya dipakai untuk minum dan memasak. “Kami tidak bergantung sepenuhnya pada PAM. Kalau mati, ya kita pakai yang dari dalam tanah. Tidak sampai lumpuh,” ujarnya tenang.
Krisis ini mengungkap ketimpangan struktural: di satu sisi, warga miskin harus menguras tenaga dan uang untuk membeli air, sementara yang mampu telah membangun sistem cadangan. Di sisi lain, ketergantungan Jakarta pada satu titik sentral—IPA Pejompongan I—menjadi titik lemah yang rentan. Setiap gangguan listrik, sekecil apa pun, berdampak berantai pada jutaan nyawa yang menunggu tetesan air dari keran.
Pemerintah DKI Jakarta belum memberikan pernyataan resmi mengenai solusi jangka panjang. Sementara itu, warga terus beradaptasi: ada yang membeli tangki air pribadi, ada yang berbagi sumur, dan ada yang berdoa agar listrik segera pulih. Di tengah kota yang megah, air tetap menjadi barang paling berharga—dan paling tidak adil distribusinya.

















